facebook pixel
kelas sosial diinstagram

Saat traveling dan instagram digunakan sebagai alat pengukur kelas sosial. Sumber foto

Instagram dulunya dijadikan sebagai media untuk mengunggah foto-foto kehidupan pribadi. Tujuannya sih bukan lain untuk galeri foto yang bisa dilihat kapanpun kita mau. Nggak kuatir foto bakal hilang atau terhapus, karena memang tersimpan secara online di akun instagram masing-masing.

Mungkin Kamu juga udah sadar, kalau saat ini fungsi instagram seolah bergeser. Instagram yang tadinya cuma dipake untuk galeri foto pribadi, lantas digantikan dengan fungsi lain. Mulai dari beriklan produk, memamerkan hasil karya seni atau juga untuk saling berbagi informasi penting. 

Lebih buruknya lagi nih, instagram sekarang malah justru seolah-olah dijadikan alat pengukur keeksisan seseorang. Atau istilah lainnya sebagai pengukur kelas sosial dalam pergaulan. Siapa yang eksis diinstagram,[seolah] dia punya kelas sosial yang tinggi. 

Melihat instagram dan tren traveling di tengah kehidupan kaum millenial

Kaum millenial yang hidup di era serba teknologi sering banget menjadikan sosial media sebagai kiblat untuk menentukan setenar dan seeksis apa hidup mereka. Saat di mana sebuah tren traveling mulai merajalela, maka ya kayak gitu juga yang terjadi di instagram. Banyak orang yang akhirnya berlomba-lomba untuk menciptakan foto-foto liburan yang cantik dan instagramable. Mungkin Kamu juga termasuk orang yang melakukannya. 

Coba deh bayangkan, dulu orang pergi jalan-jalan memang karena mereka butuh liburan. Atau kalau nggak ya karena memang itu pekerjaannya, misalnya fotografer atau travel blogger. Banyak juga nih, orang yang jalan-jalan buat mengenal diri mereka sendiri. Semacam ajang untuk refleksi ke diri sendiri supaya bisa lebih baik setelah pulang dari traveling. 

Nggak cuma jalan-jalan, naik gunung juga begitu. Dulu orang yang naik gunung ya karena mereka emang suka sama tantangan. Suka tidur di alam terbuka, suka menikmati bintang, suka menikmati hawa dingin gunung lengkap dengan sunrise dan sunsetnya. Dan dulu orang yang mendaki gunung emang punya pengetahuan soal ilmu pendakian, manajemen pendakian, manajemen perjalanan atau P3K.

Tapi hal-hal kayak gitu sekarang udah mulai buyar. Banyak orang yang pergi traveling atau naik gunung sebetulnya bukan karena mereka butuh. Tapi cuma sekadar memenuhi hasrat untuk bisa posting foto bagus di instagram. Biar dibilang hits dan kekinian, karena ya memang begitu adanya. Mereka diterima saat keberadaan mereka juga eksis di sosial media. 

Di sisi lain, justru makin banyak kerusakan terjadi di alam. Destinasi wisata makin ramai, tapi sampah juga makin merajalela. Kerusakan terjadi di sana sini, dan uniknya mereka nggak peduli soal itu. Mereka terlalu fokus soal spot foto yang cantik biar bisa diunggah ke instagram. 

David MacMurtrie: Travelinglah, Karena Traveling adalah Guru Kehidupan. Itu yang harusnya Kamu jadikan pedoman saat traveling, bukan cuma soal sosial media

Ketika liburan, jalan-jalan atau traveling jadi ajang mencari like dan komentar di instagram untuk meninggikan kelas sosial mereka

Nilai kehidupan dalam “traveling” yang konon bisa bikin orang makin dewasa mungkin cuma tinggal kenangan. Yang ada sekarang, traveling cuma bikin orang makin apatis sama lingkungan sekitar dan lebih peduli dengan kehidupannya di sosial media yang sebetulnya “fake”. Banyak orang mengunggah  foto destinasi wisata yang bagus, indah, cantik dan bersih. Padahal sebenarnya yang mereka perlihatkan cuma sebagian dari foto asli yang sebetulnya kotor dan lusuh. 

Nggak lupa, mereka tambahkan kata-kata pemanis biar lebih banyak orang yang menyukai dan mengomentari foto mereka. Dan nggak perlu nunggu lama, foto-foto kayak gini bakal langsung hits di instagram. Banyak di “like” dan banyak juga di “komentari”.

Begitu juga saat traveling, mereka lebih sibuk foto sana-sini ketimbang sibuk merenung atau ngobrol dengan warga lokal. Belajar banyak hal baru dari orang asing, atau melakukan hal yang belum pernah kita coba sebelumnya. Semua teralihkan dengan kesibukan mencari titik fotogenik yang instagramable.

Dan kalau Kamu menyadari, sekarang instagram bisa jadi alat untuk membentuk kelas sosial. Orang yang punya followers ribuan dan sering menerima like atau komentar dianggap memiliki kelas sosial yang tinggi. Dan mereka inilah yang bakal lebih mudah diterima di pergaulan. 

Tapi hal kayak gini emang sudah jadi hal yang lumrah, dan bukankah itu hak semua orang untuk mengunggah foto apapun di instagram mereka?

Kita hidup di era sosial media, jadi memang hal semacam ini lumrah terjadi. Toh sebetulnya dari segi negatif tadi, ada banyak juga sisi positifnya. Dari para kaum millenial yang sering mengunggah foto-foto cantik di instagram, destinasi wisata di Indonesia makin dikenal. Nggak cuma di dalam negeri, tapi juga di luar negeri. Teknologi dan sosial media banyak banget membantu promosi wisata, terutama dari tangan-tangananak muda yang suka mengunggah foto di instagram. 

Efek besarnya, makin banyak wisatawan yang datang, Dan bagusnya itu bisa ngebantu warga lokal untuk dapat penghasilan dari mata pencaharian lain. Misalnya dari usaha mengelola penginapan, jualan oleh-oleh, jualan souvenir atau usaha dari pengelolaan wahana pendukung di destinasi wisata. 

Jadi kalau dibilang semua hal yang dilakukan kaum-kaum pemuja instagram itu salah ya nggak benar juga. Karena biar gimana pun mereka juga udah mengambil peran besar di dunia wisata Indonesia khususnya. 

Lagi pula semua orang punya hak yang sama untuk mengunggah apapun yang mereka mau. Asal nggak merugikan dan mengganggu hak orang lain. Jadi bukankah hal-hal di atas emang wajar dan lumrah kalau sampai terjadi?

***

Eksis di instagram emang udah jadi hal lumrah sih, asal nggak yang berlebihan. Apalagi kalau sampai beli followers cuma buat naikin status sosial di instagram. Duh, kalau ngikutin sosial media, yakin deh nggak akan ada habisnya. Kalau Kamu emang suka traveling dan suka berbagi kisah perjalanan Kamu, ya lakukanlah dengan alami. 

Nggak perlu sih mengejar biar dipandang eksis dan hits. Cukuplah itu semua Kamu yang menilai dan merasakan. Dan perlu Kamu resapi, sosial media bukanlah kehidupanmuyang sesungguhnya, jadi jangan terlalu banyak berkorban untuknya. 

Baca juga :

banner experience