KUNANG-KUNANG

photo from http://www.smithsonianmag.com/

Kunang-kunang itu mitos. Banyak mitos melekat padanya. Aku pernah mendengar bahwa kunang-kunang adalah jelmaan kuku orang mati. Mengingat mitos itu aku cukup jijik membayangkan kuku-kuku itu sekarang beterbangan didekatku.

Aku tak tahu bagaimana mitos kunang-kunang adalah jelmaan kuku orang mati bisa berkembang di masyarakat kita.

Maksudku, mereka luar biasa indah.

Aku teringat, Tomiko, temanku dari Jepang pernah bercerita tentang mitos kunang-kunang di negaranya. Ketika kunang-kunang memasuki rumah, itu artinya rumah tersebut akan mendapat hal baik.

Tomiko bercerita bahwa kunang-kunang dianggap jelmaan jiwa pejuang yang gugur dalam perang. Nasib buruk akan datang jika kita membunuh kunang-kunang. Itu yang bisa aku tangkap dari penjelasan Tomiko dengan bahasa Indonesianya yang patah-patah.

Di negerinya sana, kunang-kunang memiliki makna sedalam bunga sakura.

Aku sangat menyukai kunang-kunang. Menurut guru biologiku saat SMA, kunang-kunang itu ajaib. Meski para peneliti telah mampu membuat cahaya yang mirip seperti dikeluarkan kunang-kunang, mereka tetap harus mengambil beberapa unsur dari tubuh kunang-kunang karena belum menemukan cara untuk membuat zat tersebut.

Luar biasa memang Sang Pemilik Kehidupan.

Saat ini dihadapanku terdapat ribuan kunang-kunang beterbangan sambil memancarkan cahaya indahnya. Cahaya yang keluar dari tubuh kunang-kunang berpadu dengan purnama malam itu benar-benar menakjubkan.

Kuambil kamera digital kuno yang kubeli 4 tahun lalu hasil menabung kerja sambilan. Hasil gambarnya memang tak sejernih DSLR.

Paling tidak panorama luar biasa ini terdokumentasi secara nyata, tak hanya terekam dalam ingatan sehingga bisa kubagikan pada orang-orang dekat.

Dari pancaran cahaya kunang-kunang, sekilas kulihat ular pohon menggelantung dikejauhan. Terlihat pula beberapa ikan kecil di pantulan cahaya air sungai yang jernih.

Sungai Sebong Bintan Mangrove ini memang sangat jernih.

Nutrisi dari akar mangrove yang menyebabkan hal tersebut.

Kunaikan resleting jaketku. Udara dingin mulai menusuk kulit. Suasana malam di tepi Sungai Sebong,Bintan ini begitu menimbulkan kesan di lima indraku.

Disini kita dilarang merokok karena dapat membahayakan diri kita sendiri. Ular bakau hitam bergaris kuning siap menyerang kita karena ular sangat sensitif pada suhu panas.

Kulempar pandangan kembali pada kumpulan kunang-kunang didepan sana. Menurut penjelasan guideku, kunang-kunang ini tidak muncul ditiap malam.

Betapa beruntungnya aku. Saat malam-malam tertentu, ribuan kunang-kunang jantan turun untuk kawin. Dari penjelasan guide ini pula aku bisa membedakan mana kunang-kunang jantan dan mana kunang-kunang-kunang betina.

Kunang-kunang jantan pendaran cahayanya berkedip lebih cepat, sementara kunang-kunang betina lebih lambat. Setelah menemukan pasangan masing-masing mereka akan terbang bersama-sama keatas pohon dan menerangi suasana sekitar. Pemandangan inilah yang saat ini sedang kuamati.

Udara dingin kembali menyelinap dari celah-celah jaket. Sayup-sayup kudengar suara teriakan monyet. Mungkin hanya perasaanku, karena setahuku monyet bukan hewan yang aktif dimalam hari.

Kuseruput minuman buah attap chee yang kubeli dari warga lokal. Buah khas daerah sini ini mirip kolang-kaling,manis rasanya.

Teman seperjalananku heran mengapa aku doyan minuman itu karena menurutnya minuman tersebut terlalu manis.

Kembali ke kunang-kunang, kebiasaan para kunang-kunang jantan dan betina itu membuatku kembali teringat pada cerita Tomiko mengenai legenda jepang tentang putri kaguya. Kunang-kunang betina itu dijemput oleh para kunang-kunang jantan yang turun dari atas pohon pada tengah malam.

Mirip cerita rakyat Jepang, Putri Kaguya yang tengah malam saat purnama dijemput prajurit-prajuritnya kembali ke bulan.

Aku memang suka mengait-kaitkan satu hal dengan hal lainnya, meskipun mungkin menurut beberapa teman aku hanya menggunakan ilmu cocoklogi.

Rombonganku meneruskan perjalanan menyusuri sungai. Sebelum meninggalkan kumpulan kunang-kunang ini, kembali kukeluarkan kamera digital jadulku, untuk menjepret tarian indah mereka diatas sana.

Sekilas lihat mereka nampak memberi pose terbaiknya untuk jepretan terakhirku. Sampai jumpa untuk kalian semua. Entah kenapa aku merasa aku akan kembali lagi ketempat ini.

Dapatkan ulasan menarik lainnya tentang BINTAN, tulisan lain Shabara Wicaksono

Kontes menulis berhadiah voucher hotel dari Phinemo. Ikuti sekarang

Tag : , ,



Berikan Komentar di Bawah

Airy Rooms
Next Post