facebook pixel

Hal Luar Biasa yang Hanya Bisa Ditemukan di Air Terjun Nermnudo Biak Utara

Banyak hal luar biasa yang bisa kamu temukan di Air terjun Nermnu di Biak Utara.


Hari ini kita ke Air terjun di Kampung Nermnu, Biak Utara”, kata Yoseph menjawab pertanyaanku setelah 5 menit tiba di rumah Icha tempat kami berkumpul pagi itu.

Nermnu? Saya tak pernah tahu letak kampung itu sebelumnya, walau selama ini sering ke daerah Biak Utara. Saya ikut saja kemana mereka membawa saya, seraya kami menuju sepeda motor yang terparkir di depan rumah Icha.

Jalan menuju Biak Utara begitu lebar dan nyaris bebas hambatan. Tentu, di sini tak sepadat Jawa sana.

Yoseph mengatur laju kami di depan, disusul Kristin dan Icha yang berboncengan kemudian saya di belakang mengikutinya. Setelah melaju selama 45 menit, Yoseph menepi ke sebuah Kios jualan, kami pun ikut berhenti. “Tong (kita) su (sudah) lewat kakak”, kata Icha menunjukkan persimpangan jalan ke kampung Nermnu yang telah kami lewati. Setelah membeli Pinang dan minuman botol di kios kami kembali ke arah persimpangan Kampung Nermnu.

 

Pinang untuk Pak Desa

biak

Jalan setapak menuju air terjun Nermnudo. Foto oleh Alvi Sitepu

Tiba di rumah Pak Desa (Kepala Desa) Yoseph berhenti dan masuk ke dalam rumah. Di rumah Pak Desa ada bapak-bapak yang sedang berkumpul. Melihat kedatangan kami Pak Desa membawa kami ke depan rumah dan mempersilakan duduk di kursi panjang yang terbuat dari kayu.

Bapa, kitorang (Kita) mau minta izin melihat air terjun”, kata Yoseph menjelaskan tujuan kedatangan kami sambil mengeluarkan pinang yang tadi ia beli di Kios jualan lalu memberikannya kepada Pak Desa (Kepala Desa). Pak Desa lalu memberikan penjelasan mengenai letak air terjun sambil mulai memakan pinang. “Nanti Pak Kafiar antar kalian kesana”, katanya memberi kode perintah kepada Pak Kafiar yang berdiri di sampingnya. Pak Kafiar pun mengangguk tanda setuju.

 

Berjalan di hutan diiringi musik klasik dari aliran sungai

Pak Kafiar menuntun kami ke sudut kampung. Jalannya menurun, semak-semak tampak hijau dan segar bertumbuhan di sisi kanan dan kirinya. Setelah berjalan turun 20 meter, deretan pepohon yang rindang mulai terlihat dan sangat menyegarkan matsaya.

Serr…cericik-cericik..”, terdengar suara gemiricik air yang begitu dekat. Suara gemiricik itu bak sebuah irama klasik itu ternyata berasal dari aliran sebuah sungai yang tak jauh dari sisi kiri jalan setapak. Laksana Mozart yang memainkan dawai biolanya, aliran air sungai di alam ini bergerak berkelok-kelok lalu berbenturan dengan bebatuan yang akhirnya menghasilkan nada-nada yang indah di telinga. Suara alam memang selalu indah di dengar.

Karena asyik mendengar musik klasik tanpa terasa akhirnya kami tiba di lokasi Air Terjun.

Wow!” Karya Yang maha Kuasa ini luar biasa! Kami berhenti sembari melepas penat  setelah 800 meter berjalan kaki.

 

Nermnudo si Air Terjun di bawah kampung 

biak

Segarnya air terjun bertingkat. Foto oleh Alvi Sitepu

Do itu artinya di bawah”, kata Pak Kafiar menjelaskan kata do dari Nermnudo nama air terjun ini. “Nermnu nama kampungnya dan do artinya di bawah, jadi maksudnya ialah air terjun yang ada di bawah kampung Nermnu”, begitulah penjelasan Pak Kafiar.

Dari bawah, Air Terjun Nermnudo terlihat menakjubkan. Aliran air yang berjatuhan di bebatuan yang bertingkat nampak unik. Memang tidak terlihat tinggi, namun air terjun ini memiliki ciri dan keunikan tersendiri dari segi fisiknya.

Icha, Kristin dan Yoseph pun segera beraksi di depan kamera dengan latar Air Terjun Nermnudo. Dengan berbagai jurus mereka silih berganti mengabadikan momen yang indah ini. Saya juga tak mau ketinggalan dan segera memotret. “Jepret..jepret” bak fotografer professional saya memotret dari segala sisi.

 

Segerombolan bocah-bocah Kampung Nermnu

biak

Foto bersama gerombolan anak-anak kampung Nermnu. Foto oleh Alvi Sitepu

Selagi kami asyik berfoto, terdengar suara riuh dari atas. Satu, dua orang mulai bermunculan dari balik pepohonan, ternyata mereka adalah segerombolan bocah-bocah Kampung Nermnu. Gerombolan itu ada 10 orang anak laki-laki dan perempuan. Melihat mereka datang menghampiri, kami pun memanggilnya untuk berfoto bersama. Bocah-bocah lugu ini terlihat sangat lucu. Karakter mereka berbeda-beda, tapi satu hal yang serupa yaitu senyum malu-malu terpancar dari wajah mereka.

 

Pepohonan si Payung Alami

Anak-anak pun terus bergaya saat di foto. Namun disaat asyik berfoto titik-titik hujan mulai membasahi lokasi Air Terjun. Kami dan anak-anak segera mencari tempat berteduh. Tak ada Pondok atau tenda yang terlihat di sana, namun pepohonan rindang yang ada, bersedia menjadi payung saat itu. Masing-masing kami mencari pohon terdekat. Anak-anak pun berpencar mencari payung alami masing masing.

 

Ana sang model

biak

Ana sang model. Foto oleh Alvi Sitepu

Hujan mulai reda. Dari bawah pohon saya memperhatikan anak-anak mulai bermain lagi ke air terjun. Saya mengikutinya dan mulai memotret lagi. Saat sedang asyik memotret, seorang anak perempuan yang tadinya berteduh terpisah sendiri lewat dari sampingku. Ia membawa setangkai dahan pohon yang masih berdaun. Sepertinya dahan berdaun itu adalah payungnya. Reflek saya memanggilnya dan bertanya siapa namanya.

Ana” jawabnya memberitahukan namanya kepada saya. Saya pun memintanya untuk berdiri di air terjun bersama payungnya. Bak seorang model Ana beraksi di depan kamera. Begitu polosnya ia bergaya bersama payungnya, semua yang dilakukannya begitu alami.

Dalam hati kecilku berkata “Ana ko lebih cantik dari umbrella girl di Arena Moto GP”.

 

Sungai Korem bertepikan pasir putih

biak

Sungai korem bertepikan pasir putih. Foto oleh Alvi Sitepu

Sehabis berfoto dengan anak-anak di air terjun, kami pun berpindah ke sungai yang tepat di bawahnya.

Sungai itu bertepikan pasir putih! “Ternyata tak hanya Laut Biak yang berpasir putih,” pikirku sembari turun ke bawah. Sesampai di bawah saya memperhatikan air sungainya yang berwarna hijau, aliran airnya pun tak bersuara. Hanya ada suara riuh gelak tawa anak-anak Nermnu dan kami di sana.

Suasana di air terjun dan Sungai Korem ini begitu alami. Semoga kealamiannya terjaga sepanjang waktu hingga saat Ana dan teman-temannya dewasa dapat kembali mengingat masa kanak-kanak mereka bermain di sini.

Ya, semoga.

 

banner experience