Sidebar

5 Hal yang Tak Akan Saya Ulangi Lagi di Jogja

5 Hal yang Tak Akan Saya Ulangi Lagi di Jogja

Inilah hal-hal yang tak akan saya ulangi lagi saat berkeliling Kota Jogja.

SHARE :

Ditulis Oleh: Faiz Jazuli

Photo by Faiz Jazuli

Jogja memang istimewa, disaat perusahaan game sebesar Gameloft serta berdirinya startup-startup baru di bidang teknologi bermunculan, kebudayaan dan tradisional Jogja masih bisa terjaga.

Saat hidden paradise Jogja – wisata alam Jogja – menjadi trending dunia maya, saya tetap merasa berkeliling Kota Jogja jauh lebih menyenangkan dan setelah beberapa saat berkeliling saya meyadari ada beberapa hal yang tak berjalan sebagaimana mestinya.

Bukan sebuah kesalahan kurasa – tentu tak ada yang salah dalam cara traveling, hanya saja ada hal-hal yang tak akan kulakukan lagi di kemudian hari saat berkeliling Jogja.

1. Menginap di kawasan Malioboro

Tidak ada yang salah dengan menginap di kawasan Malioboro, bahkan banyak penginapan murah seperti kawasan Sosrowijayan yang terkenal sebagai kampung turis, atau di kawasan Sosrokusuman.

Benar, kamu dapat dengan mudah mengunjungi Malioboro cukup dengan jalan kaki, tapi kamu akan melewatkan banyak tempat unik lainnya.

Saya lebih suka menginap di daerah Jl. Parangtritis, tidak terlalu jauh untuk bertualang di kota jogja.

Hanya 15 menit dengan jalan kaki untuk sampai di Alun-alun Kidul. Serta sekitar 35 menit untuk sampai di kawasan Malioboro.

Menginap di kawasan ini saya menemui banyak kehidupan lokal Jogja. Seperti mendengar kokok ayam di pagi hari, makan soto sapi di pasar tradisional dengan harga lokal atau anak-anak berlarian di jalanan berusaha menerbangkan layang-layang.

Lebih seru menurutku, daripada hanya istirahat kemudian mengelilingi Malioboro tanpa tahu kehidupan warga Jogja.

2. Berkeliling menggunakan kendaraan pribadi

Surga tidak pernah di temukan secara sengaja, kamu harus mencarinya.

Alun-alun Kidul sangat panas dan sepi saat siang hari. Aku melintas di depan sebuah warung yang sangat ramai, sampai ada yang duduk duduk di depan bahkan ada yang masih antri. Jadi penasaran, kebetulan jam makan siang.

Ternyata sudah banyak artis yang pernah mampir kesini. Nasi brongkos Bu Handayani. Tempe gorengnya enak. Di potong berbentuk segitiga dengan di baluri tepung yang tipis dan di goreng kering.

Memang ramai gini nih kalau 13-an’, ucap Uak Lesus yang sedang makan brongkos di meja yang sama.

Kok 13-an? Sedang ada upacara adat ya pak?’

Ternyata 13-an itu sebutan untuk jam makan siang pegawai.

Mau pakai mobil atau sepeda motor sama saja, kamu akan melewatkan banyak hal yang istimewa dari Jogja.

Jika menggunakan kendaraan sendiri kamu cuma fokus untuk sampai destinasi tujuan kamu.

3. Mengunjungi Alun-alun Kidul selepas magrib

Aku pernah sekali ke Alun-alun Kidul waktu siang hari. Panas, sepi, belum ada siapapun, hanya kendaraan yang berlalu lalang.

Tapi selepas magrib adalah waktu terburuk untuk berkunjung ke alun-alun kidul.

Sangat ramai, pedagang mulai menjajah penikmat alun-alun kidul dengan membuat lapak di rerumputan alun-alun.

Ditambah odong-odong dengan lampu warna-warni muter alun-alun. Macet bukan main, mobil pengunjung juga diparkir hampir di semua sisi jalan.

Mencoba menutup mata dan berjuang untuk melewati pohon beringin malah berhasil nabrakin orang. Terlalu banyak orang yang berjuang bersama-sama. Aku lebih suka ke sini selepas jam 10 malam. Lebih bisa menikmati apa itu Jogja yang istimewa.

4. Mencari oleh-oleh di Malioboro setelah sore hingga pedagang tutup

Hal yang paling keren di temui saat di Malioboro setelah sore hari adalah pertunjukan kelompok musisi jalanan.

Salut, tapi ada yang aneh, mereka memakai angklung, padahal itu alat musik daerah jawa barat. Ada lagi seorang tuna netra yang suaranya merdu luar biasa. Dia menyanyikan lagu Citra Scholastika. Pertama kali dengar saya kira lipsync. Ternyata asli.

Tapi jika berburu oleh-oleh, jangan pernah mencarinya sore apalagi malam hari. Jalanan Malioboro yang sempit cenderung ramai dan macet. Saat menawar kamu akan menghalangi jalan orang lain. Jadilah jalan semakin macet. Menawar jadi tidak nyaman, rasanya ingin menyerobot dan langsung bayar saja.

Waktu terbaik ke Malioboro adalah pagi hari. Sekalian sarapan nasi pecel di depan salah satu mall yang ada di situ.

Suasana sangat berbeda, kamu akan makan pecel bersama turis-turis lain. Udara masih terasa segar, belum banyak kendaraan yang lalu lalang, dan satu lagi, percayalah kamu tidak akan menemukan warga lokal makan pencel disini.

5. Melewatkan ngobrol dengan warga kampung cyber saat berada di komplek Tamansari

Akhir tahun 2014 Indonesia dihebohkan dengan foto Mark Zuckerberg duduk santai menikmati sunrise di Candi Borobudur. Ternyata dia juga mengunjungi kampung cyber ini. Fotonya terpampang besar di salah satu gang kampung cyber.

Dia berkunjung untuk proyek besarnya, internet.org

Sebuah papan petunjuk, ‘anda memasuki kawasan kampung cyber’ masih teringat jelas sampai sekarang.

Sayangnya aku tidak sempat ngobrol dengan warga lokal dan belum tahu sampai sekarang kenapa disebut kampung cyber.

SHARE :


Rekomendasi

Pulo Cinta Eco Resort, Hotel Mewah Ala Maldives di Pesisir Sulawesi

Tempat Snorkeling di Bintan Tercemar Minyak, Potret Buruk Pengelolaan Limbah

The Great Blue Hole, Titik Terdalam Bumi yang Masih Misterius

Umaid Bhawan Palace, Bekas Istana yang Disewakan untuk Penginapan

Rumah Pohon Suku Korowai, Potret Hidup Harmonis dengan Alam

Museum of Broken Relationship, Tempat Mengenang Kegagalan Cinta

FALLBACK
The END