11 Hal yang Sebenarnya Tak Disukai Pendaki Pria dari Pendaki Wanita

Ternyata diam-diam pendaki pria tidak menyukai hal-hal ini dari para pendaki wanita. Apa saja ya?

SHARE :

Ditulis Oleh: Wike Sulistiarmi

Apa yang ada di kepala pria tentang pendaki wanita? Foto: CC 2.0 Flickr Ben Bland

Pria adalah makhluk bumi yang sangat misterius. Segala keinginan dan isi otaknya tak bisa ditebak para wanita.

Begitupun dalam bidang pendakian. Jika Kamu, para wanita, tahu apa yang ada di isi kepala pria, Kamu mungkin tak akan menyangka. Apalagi jika itu merupakan hal negatif tentang pendaki wanita.

Inilah beberapa hal yang membuat pria pendaki merasa risih dan tidak nyaman saat mendaki bersama wanita:

Berisik saat sunrise

Sunrise pada umumnya menjadi waktu yang paling indah saat berada di gunung, awan-awan menyatu dan matahari muncul dari sela-sela awan itu. Di waktu inilah para wanita kadang terlalu berlebihan dan akhirnya menjadi sangat berisik sendiri tanpa mempedulikan sekitar.

“Pagi-pagi biasanya mereka berisik, padahal mungkin ada pendaki yang baru sampai puncak dan ingin istirahat.” –SW (25 tahun), pendaki asal Purbalingga.

Membuat suasana menjadi rumit saat ingin buang air

Meskipun wanita pendaki itu lebih mengagumkan dari wanita kebanyakan, namun sifat ribetnya masih tetap terpatri dalam jiwanya. Begitupun ketika buang air di gunung. 

“Sering menyebalkan, terutama saat mereka ribet sendiri saat cari spot untuk buang air.” -Nurdiansyah, pendaki asal Bogor.

Masih saja terpaku pada make-up

Wanita, dalam kondisi apapun tak pernah lupa untuk menyematkan make up ke dalam tas, bahkan saat mendaki gunung. Ingin tampil cantik dan tidak terlihat pucat adalah salah satu alasannya. Meskipun alasan ini terdengar positif, namun ternyata beberapa pendaki pria tak nyaman dengan wanita pendaki yang terlalu fokus dengan make-up saat mendaki.

“Masih mengurusi make up padahal sedang mendaki. Memangnya mau mejeng di mall?”. -GW (24 tahun), pendaki asal Pekalongan.

Manja diwaktu yang tidak tepat

Mendaki memang kegiatan yang membutuhkan kekuatan fisik yang sangat besar. Banyak orang merasa lelah saat mendaki. Dalam keadaan lelah, semangat membara harus tetap terjaga agar bisa sampai puncak. Namun, kadang para wanita kadang malah berubah manja dan minta diperhatikan. Sesekali manja mungkin ‘masih oke’ bagi pendaki pria, tapi jika berlebihan kadang pria pendaki akan sebal sendiri (meski mereka memendamnya dalam hati).

“Kalau manja saat lagi api unggunan tak masalah, tapi kalau lagi sedang jalan di tanjakan ya jadi masalah,” Ujar GW (24 tahun), pendaki asal Pekalongan.

Sok Kuat

Mendaki itu melelahkan, semua orang butuh istirahat agar stamina bisa kembali fit. Tapi, kadang ada saja wanita pendaki yang memaksakan diri dan sok-sok-an kuat. Meskipun bisa cepat sampai ke tujuan, namun akibatnya bisa fatal bagi tubuh karena kelelahan.

“Pernah mendaki bersama beberapa cewek, mereka pura-pura kuat. Akhirnya K.O pas sampai puncak,” ujar Husni, pendaki asal Jawa Tengah

Tidak memiliki skill membangun tenda

Skill membangun tenda bukan hanya skill yang wajib dimiliki pendaki pria, pendaki wanita pun seharusnya juga mahir membangun tenda. Tapi, kenyataan di lapangan tak semanis teori. Beberapa wanita tidak memiliki skill ini sama sekali saat mendaki. Alhasil, pria harus kerja sendiri untuk mendirikan tenda.

“Sudah tidak bisa bangun tenda, mereka juga tidak mau inisiatif menyalakan senter untuk penerangan saat saya bikin tenda. Ditambah lagi, mereka langsung tiduran di dalam tenda tanpa ngomong apa-apa,” -Andika, pendaki asal Jateng.

Pendaki wanita yang tidak memiliki skill memasak

Makan adalah salah satu hal penting yang harus dilakukan agar pendaki bisa menyelesaikan perjalanannya tanpa kelaparan dan kekurangan tenaga. Tapi sebelum makan tentu saja harus masak. Tapi para wanita kadang terlalu lelah dan memilih tidur ketimbang masak. Hal ini kadang membuat pendaki pria merasa ill-feel.

“Males lihatnya kalau ada cewek pendaki yang nggak mau masak dan bahkan nggak bisa masak!” ujar Fuad (25 tahun) pendaki asal Pekalongan

“Niatnya kami para pendaki cowok itu bawa cewek biar bisa diajak kerjasama, biar ada yang masak, eh mereka malah pengen enaknya aja,” ujar Nurdiansyah, pendaki asal Bogor.

Pilih-pilih makanan

Gunung itu bukan restoran yang punya menu makanan seabreg, tapi kadang beberapa pendaki wanita banyak maunya. Bahkan pilih-pilih menu makanan. Maunya yang enak saja, menu yang tak terlalu enak diberikan ke pendaki pria.

“Ribet, ada juga yang suka pilih-pilih makanan” –Nurdiansyah, pendaki asal Bogor.

Cerewet

Cerewet sepertinya memang talenta bawaan lahir bagi wanita, tapi untuk alasan tertentu, cerewet adalah hal yang dibenci oleh pria, apalagi saat mendaki. Mendaki yang harusnya mendapatkan ketenangan jadi sirna karena obrolan para pendaki wanita.

“Kalau aku nih ya.. kalau pas mendaki tuh ada ceweknya yang nggak aku suka itu cerewetnya..Males banget!,” ujar Andika, pendaki antah berantah.

Terlalu Jaim

Cerewet memang mengganggu, tapi terlalu jaga image juga tak disukai oleh pendaki pria. Karena bagi pria, wanita yang mengagumkan dan layak jadi teman mendaki itu yang apa adanya, bukan yang jaga image.

Diajak ngobrol nggak mau, mending cerewet tapi bisa bikin pendakian makin seru dan semangat.” –Grg (27 tahun), pendaki asal Jawa Timur.

Pendaki wanita yang mudah menyerah

“Sudah, nggak kuat, aku balik aja. Kamu lanjut!”

Pernah mendengar pendaki wanita bilang kata-kata di atas? Mungkin sering.

Bagi para wanita yang ingin mendaki, lebih baik pupuk semangatmu agar tidak membuat pendaki pria terganggu.

“Yang membuat saya kurang sreg kalau jalan sama pendaki cewek itu ya karena mereka terlalu gampang menyerah,” –Yogi (25 tahun), pendaki asal Brebes.

Penakut

Tidur dan berjalan di dalam hutan dan padang sabana adalah hal yang indah bagi para pendaki. Namun wanita pendaki selalu berbisik “Nanti kalau ada beruang atau hantu bagaimana pas tidur? Katanya di sini juga banyak babi hutan, kan?”.

Rasa takut yang berlebihan ini kadang membuat para pendaki pria malas berhadapan dengan pendaki wanita. 

“Males itu kalau ngajak mereka naik gunung dan mulai mendongengkan hal-hal tak masuk akal.” –PTR (20 tahun), pendaki asal Jakarta.

Banyak mengeluh

Semua orang pasti suka mengeluh jika sedang lelah. Apalagi mendaki adalah kegiatan yang membuat kondisi fisik dan stamina menurun. Keluhan normal seperti kedinginan mungkin masih bisa ditolerir, tapi kalau sudah mengeluh berlebihan mulai dari awal mendaki hingga turun mendaki, pasti akan membuat orang tidak nyaman. 

“Saya paling anti dengan pendaki wanita yang banyak mengeluh. Nggak bikin semangat. ”–RT(22 tahun), pendaki asal Jawa Tengah.

***

Jika ingin membuat orang lain nyaman, Kamu para wanita yang ingin mulai menekuni atau baru menekuni hobi pendakian lebih baik menghindari 11 hal di atas. Perbaiki skill diri dan tidak lupa untuk olahraga sebelum mendaki agar fisik selalu terjaga selama pendakian.

SHARE :



REKOMENDASI




ARTIKEL KEREN PALING BARU