“Ko tinggal turun naik, ko tinggal turun naik, ko tinggal turun naik, turun naik, turun naik t’rus..” sepenggal lagu Fresh Boy ini sepertinya bisa meggambarkan medan jalan di Kota Fak-Fak, Papua Barat.

Karena medan jalan di sana hanya ada menanjak dan menurun, curam-curam lagi. Namun begitu, istilah turun naik juga bisa dipakai untuk bepergian seperti naik ke kota atau turun ke kampung. Seperti apakah turun naik melihat pesona Fak-Fak?

Yuk, kita mulai dari Kota Fak-Fak turun ke Kokas, karena menurut masyarakat di sini kokas merupakan inti sejarah masyarakat Fak-Fak.

Turun ke Kokas sikota tua penuh sejarah

Meriam-Tokyo-Maruseko-peninggalan-jepang-di-Kokas. Foto berasal dari penulis

Bukan hanya di Jakarta ada istilah kota tua, di Kokas, Fak-Fak juga ada kok istilah itu. Tiba di kokas kita bisa berjalan menelusuri sepenggal bekas kota tua, yang daerahnya dekat pelabuhan. Di sana ada bangunan pertokoan kecil yang masih bergaya tempo dulu. Berfoto di sana dengan gaya hitam putih tentunya dapat membawa kita bernostalgia ke masa lalu.

Selain itu, di kokas juga masih ada bekas meriam,bukit pertahanan dan gua persembunyian tentara Jepang pada masa perang dunia ke II.Berjalan lagi ke Kampung Patimburak kita dapat menumpai sebuah Masjid Tua yang masih berdiri kokoh walau telah dibangun selama ratusan tahun yang lalu.

Naik Perahu ke Teluk Kokas yang penuh deretan pulau-pulau batu

Pemandangan-deretan-pulau-pulau-batu-di-Teluk-Kokas. Foto oleh penulis

Belum lengkap rasanya bila berada di kokas apabila belum mengeksploreTeluknya. Karena di Teluk Kokas punya pemandangan yang luar biasa. Dimana tampak deretan pulau-pulau batu kokoh berdiri di atas lautnya. Deretan pulau-pulau batu itu ada di sepanjang kepulauan Ugar dan Arguni. Pemandangan deretan pulau-pulau ini jika diabadikan dengan kamera drone atau kamera lainnya dari puncak bukit yang lebih tinggi tentunya akan menjadi pemandangan yang eksotis.

Tak hanya itu, beberapa pulau batu pada kepulauan ini terpampang bukti-bukti manusia jaman pra sejarah. Situs Tapurarang begitu namanya disebut masyarakat di sini. Tampak gambar bekas-bekas tapak tangan tertempel di ding-ding tebing batu yang berjarak 2 meter lebih dari permukaan laut. Ini memang kelihatan aneh tapi nyata.

Satu lagi yang menjadi bonus perjalanan di teluk kokas bisa kitadapatkan pada sore hari. Bonus itu adalah pemandangan matahari terbenam di balik pulau-pulau batuyang akan menemani perjalanan pulang ke Kokas. Tentu ini pengalaman yang susah di dapatkan di kota-kota besar seperti Jakarta.

Turun ke Kali Ubadari yang mirip pemandian bidadari

Pemandian Ubadari. Foto oleh penulis

Pemandian di kampung Ubadari ini sangat familiar bagi masyarakat Fak-Fak, bahkan hampir tiap hari libur dikunjungi oleh banyak orang. Pemandian ini merupakan sebuah sungai yang mana airnya mengalir di atas bebatuan bertingkat-tingkat, bisa dikatakan juga air terjun mini.

Jernihnya air sungai di sini membuat siapa saja ingin langsung menyebur ke dalamnya. Jangankan anak-anak, muda-mudi atau orang dewasa, para bidadari pun pasti ingin mandi dan merasakan dinginnya air sungainya. Seperti para bidadari dari kota Fak-Fak pasti sering berfoto di kali Ubadari, buktinya bisa dilihat di media sosial (#ubadari).

Naik dari sebelah jembatan melihat air terjun kayuni yang bertingkat

Air Terjun Kayuni. Foto oleh penulis

Pemandangan air terjun sudah terlihat dari jembatan di kampung Kayuni. Tetapi bila ingin melihat sisi air terjun yang berbeda, kita tinggal naik ke atas dari sebelah jembatan. Di sebelah atas akan terlihat air terjun bertingkat yang airnya mengucur deras. Ditambah lagi pemandangan tebing batu yang unik membuatnya berbeda dengan air terjun lainnya.

Tapi hati-hati saat berjalan, bebatuan yang menjadi lantainya lumayan licin. Selain itu jangan buang sampah sembarangan di sana karena air sungai ini dijadikan sumber air minum bagi warga kampung.

Turun ke Fak-Fak Timur melihat Pantai Pasir Putih dan Pantai Patawana

Pantai-Patawana-nan-elok. Foto oleh penulis

Ada dua pantai yang terkenal di daerah Fak-Fak Timur. Yang pertama adalah Pantai Pasir Putih. Nama pantai ini sesuai dengan nama kampung di sana yaitu Kampung Pasir Putih. Pantai ini menjadi lokasi wisata favorit bagi masyarakat Fak-Fak. Selain lokasinya yang dekat dari kota, berada dalam kawasan perkampungan warga, pantai inijuga memiliki hamparan pasir yang luas.

Karena luasnya, berbagai kegiatan pun bisa dilakukan di pantai ini, seperti bakar ikan, berenang, bersantai di bawah pepohonan yang rindang dan juga main bola pantai.

Kalau bicara bola pantai, jangan di tanya lagi, karena masyarakat Papua jago-jago mengolah si kulit bundar. Sepertinya ada magnet di kaki mereka, bola pun terus menempel. Melihat anak-anak itu bermain, tentu akan menjadi hiburan tersendiri saat berkunjung di sana.

Pantai yang satunya lagi bernama Pantai Patawana. Pantai ini berada di daerah kampung Kotam. Hanya ada papan petunjuk yang kecil bertuliskan “Pantai Wisata Patawana, Kampung Kotam, Distrik Fak-Fak Timur” di dekat pintu masuknya. Sekilas tampak biasa-biasa saja, karena pantai terhalang pepohonan dari arah jalan raya. Tetapi setelah menuruni jalan setapak, seketika menjadi sangat luar biasa.

Pantai ini menyajikan sebuah pemandangan nan elok dipandang mata.Elok pasirnya, elok airnya dan elok pula suasananya sehingga membuat mata tak jemu-jemu memandangnya.Dengan keelokannya itu maka sudah tentu kadar vitamin sea akan merasuk ke jiwa dan raga. Ketika sudah merasuk di jiwa tentu kenangan di pantai ini akan menjadi oleh-oleh yang tak ternilai harganya saat pulang dari Fak-Fak.

***

“Tentu di Fak-Fak masih banyak destinasi-destinasi lainnya. Seperti buah pala, ketika kita mengupas kulitnya maka tampaklah isinya yang bernilai tinggi dan harumnya tercium ke seluruh penjuru dunia”.

Kamu punya pengalaman jalan-jalan seru? Yuk, share pengalamanmu ke Phinemo Experience 

Kamu bisa baca cerita menarik lainnya di sini