Terima kasih Ibu, Telah Menjadikan Saya Seorang Petualang yang Baik

Tanpa saya sadari, Ibu merupakan guru traveling pertama saya. Beliaulah yang pertama kali memperkenalkan saya pada dunia.

Shabara Wicaksono • September 4, 2016
ibu

Foto dari Dejulogy

Saya ingat, saat saya kecil dulu keluarga saya bukan tipe yang sanggup melakukan piknik bersama setiap bulan. Kami hanya keluarga kecil biasa.Kami tak kekurangan, namun juga tak memiliki uang berlebih.

Hal yang saya ingat dulu, saya adalah seorang perengek dan peminta. Jika keinginan saya tak dituruti saya akan menangis kencang hingga tetangga sebelah,terkadang mendatangi orang tua saya karena tak tahan dengan tangisan saya – hal yang saya sesali sekarang ini karena membuat orang tua saya mendapat masalah dengan tetangga.

Begitupun saat saya tetangga saya piknik ke pantai, saya menangis keras di dalam kamar. Saat itu saya tak tahu apa itu piknik, hanya saja saat tetangga saya bilang akan ‘piknik’ dengan muka senang saya pikir pasti itu sesuatu yang menyenangkan yang tak pernah saya rasakan.

Saat itu ayah dan ibu hanya mendiamkan hingga saya tertidur karena lelah menangis.

Pelajaran pertama

Saat itu,saya Kelas 2 SD, di Minggu pagi tiba-tiba ibu mengajak saya piknik ke kebun binatang kota.

Saya hanya pergi berdua bersama ibu. Ayah saya adalah seorang wiraswasta. Dia tak pernah mengenal hari libur. “Perjalanan” paling berkesan yang saya ingat bersama ayah adalah saya digendongnya ke taman kota saat sore hari untuk menyaksikan pertunjukan monyet keliling.

Kami naik mobil jeruk – begitu saya menyebut angkutan umum berwarna oranye di kota kami dulu, sebelum berjalan kaki cukup jauh karena jalan tak dapat dilalui mobil.

Di kebun binatang, saya baru tahu jika gajah itu tak berwarna pink dan benar-benar sangat besar, setinggi pohon yang sering saya panjat di depan rumah- bahkan mungkin lebih tinggi. Sebelumnya saya berpikir gajah berwarna pink dan setinggi manusia biasa karena pada majalah anak-anak yang sering saya baca dia nampak menggemaskan. Saya juga baru tahu jika ada burung dengan ekor yang sangat besar dan tak bisa terbang, yaitu burung merak. Saya ingat saya menangis kencang saat mereka tiba-tiba mengembangkan ekor.

Saat itu ibu membawakan bekal nasi hangat, ayam goreng dan tempe goreng,serta sambal mentah favorit saya. Ibu menggelar tikar dan kamipun duduk di bawah pohon jambu besar.

Saat itu tak hanya kami, ada pula keluarga-keluarga lain duduk bersama diatas tikar sembari menikmati angin sejuk dibawah pohon rindang. Sebuah pemandangan yang jarang saya temukan saat ini.

Pelajaran kedua

Pada ulang tahun saya yang ke-8, ibu mengajak saya mengunjungi saudara di Kerinci, Jambi. Suasananya sangat berbeda dengan kampung halaman saya. Banyak pohon-pohon besar setinggi rumah di pinggir jalan. Jalanannya tak seramai di kota kami. Beberapa kali kami melewati wilayah hutan.

Ada gunung besar menjulang dikejauhan – dimana setelah saya dewasa saya tahu itu adalah Gunung Kerinci.

Bahasa mereka sangat berbeda. Ini pertama kali saya bertemu orang dengan latar belakang budaya berbeda. Dan pengalaman yang paling saya ingat adalah, Ibu membentak saya karena saya menertawakan cara bicara mereka.

Sosok ibu yang saya tahu sangat jarang marah sebelumnya dan tiba-tiba membentak membuat saya kaget dan menangis.

Ibu menasehati saya bahwa hal tersebut sangat tidak sopan. Hal yang tidak baik dilakukan.

Pelajaran ketiga

Pada liburan sekolah SD, setelah masa ujian nasional, Ibu saya mengajak ke Pantai Teluk Penyu Cilacap sebagai hadiah karena saya berhasil mendapat peringkat 1 di sekolah.

Bukan keindahan pantainya yang paling berkesan, namun pengalaman dikejar anjing hitamlah yang paling membekas. Saya hanya melemparnya dengan pasir dan tiba-tiba dia berlari ke arah saya. Saya lari ke arah Ibu yang sedang beristirahat di pinggir pantai.

Pahlawan saya  datang.

Tanpa rasa takut ibu perlahan mendekati si anjing sembari mengeluarkan bunyi-bunyian dari mulutnya. Ajaibnya si anjing berhenti menjadi beringas setelah kepalanya dielus oleh Ibu. Dia terus menggosokan kepalanya ke kaki Ibu. Tak lama pemilik anjing datang dan meminta maaf pada kami.

Seorang guru petualang

Enam tahun setelah itu, pertama kalinya saya melakukan perjalanan seorang diri tanpa ditemani Ibu. Saya pergi ke Karimunjawa bersama seorang teman. Saya berkenalan dengan banyak orang diperjalanan, mengobrol banyak hal bersama warga lokal di homestay, bertemu musang liar berwarna biji kopi di tengah jalan, serta membuat api unggun bersama rombongan tim penyelam salah satu universitas di Semarang.

Saya tak pernah memikirkannya dengan sengaja, saat saya merenung saya tersadar, ibu telah melatih saya menjadi seorang pejalan yang baik.

Saya paham, piknik adalah hal mewah bagi keluarga kami saat itu. Dengan penghasilan yang biasanya, tak mungkin ibu bisa mengajak saya piknik ke berbagai tempat. Setelah dewasa saya tahu, ibu menabung hanya untuk mengajak saya piknik.

Sejak kecil ternyata saya telah diajari “dasar-dasar menjadi seorang pejalan” oleh ibu. Cara menggali informasi baru, cara menikmati sebuah perjalanan, cara menghormati orang dengan budaya berbeda -sesuatu yang sangat membekas di ingatan, bahkan cara memperlakukan hewan yang kita temui diperjalanan.

Beliau yang pertama kali memperkenalkan dunia pada saya

Saya tersadar saat saya memandang album foto perjalanan di laptop telah banyak tempat saya kunjungi, telah banyak orang pula saya kenal diperjalanan, telah banyak pengalaman menyenangkan saya dapatkan, namun tak ada satupun foto saya bersama ibu.

Saya terlalu sibuk dengan dunia saya sendiri hingga tanpa sadar melupakan sosok seorang yang mengajarkan semua hal tentang kehidupan, termasuk soal mengenal alam.

Terima kasih, Ibu


Tinggalkan Komentar

Komentar