Telaga Arires, Berlian dari Hutan Warbon Biak, Papua

Biak hanya sebuah pulau kecil di Papua, namun ada sangat banyak 'berlian terpendam' di sini, yang bahkan jika dikembangkan layak menjadi destinasi unggulan Indonesia.

SHARE :

Ditulis Oleh: Alvi Betmanto Sitepu

Telaga Ariresbo terlihat sangat alami. Foto oleh Kristin Simanjuntak

Ini  bukan Telaga Samares, ini Arires” begitulah caption sebuah postingan Icha di salah satu media sosial. Melihat dari fotonya memang sangat mirip dengan Telaga Samares. Namun telaga ini bernama “Saon Ariresbo”. Bak berlian yang baru ditemukan di kubangan, telaga ini berkilau tengah hijaunya pepohonan yang mengelilinginya.

Telaga Saon Ariresbo berada di wilayah kampung Warbon, Distrik Biak Utara. Untuk ke Kampung Warbon dibutuhkan waktu 30-45 menit dari kota Biak dengan sepeda motor. Sesampainya dikampung Warbon harus berjalan kaki lagi ke Telaga sejauh 3,5 km.

(Kisah Perjalanan ini dikutip dari Yoseph, Icha, Kristin dan Pay di Biak. Sekelompok petualang yang selama ini selalu mencari destinasi-destinasi baru di Biak.)

 

Arires = Tempat berjemur

Pohon-pohon tumbang di telaga Ariresbo menambah kesan alami. Foto oleh Pay Itsia

Arires dalam bahasa Biak mempunyai arti “berjemur”, namun di sini kamu tak akan menemukan orang-orang berjemur layaknya wisatawan di pantai-pantai Bali dan Lombok.

Konon katanya ada seorang bermarga Rumander tinggal di pantai  yang tak jauh dari telaga ini. Kegiatannya sehari-hari hanya berjemur, sehingga tempat itu identik dengan kegiatan si bapak tersebut. Maka untuk memudahkan masyarakat mengingat tempat itu disebutlah nama pantai itu Arires. “Bo” dalam bahasa Biak berarti di atas, sehingga kata Telaga Ariresbo adalah Telaga yang berada di atas Pantai Arires.

 

Perjalanan yang melelahkan terbayar oleh Kecantikan Alami Telaga Saon Ariresbo

Melihat hewan air yang bermain di pinggiran telaga. Foto oleh Icha

Medan jalan ke telaga dari Kampung Warbon sebenarnya bisa ditempuh dengan sepeda motor, apa lagi dengan motor trail. Namun karena jalannya berkubang sehingga susah untuk dilalui. Selain itu saat memasuki hutan jalannya dipenuhi bebatuan cadas. Untungnya mereka memakai sepatu dan memudahkan untuk bergerak cepat.

Perjalanan pun mulai menghasilkan tetesan peluh dan membasahi pakaian. Di tengah perjalanan dalam hutan terdengar suara deru ombak dari pantai. Suara itu terdengar bergemuruh seakan menjadi musik yang mengiringi perjalanan ini.

Pada akhirnya terlihatlah sebuah pemandangan indah. Deretan pepohonan dan tumbuhan yang berwarna hijau menambah kesan yang begitu alami pada tempat ini. “Rasa lelah serasa terbayar oleh keindahan ini”, Icha pun berguman.

 

Empat sumber mata air ada di dalam Telaga

Di dalam telaga ini ada 4 sumber mata air. Mata-mata air itu mengalir dari sudut-sudut telaga sehingga menghasilkan air telaga yang jernih”, tutur Pak Abraw kepala desa Wabron yang ikut sebagai penunjuk tempat.

Selain itu menurut Yoseph di dalam telaga tampak beberapa jenis ikan tawar menari meliuk-liukan badannya melewati reranting pohon yang tenggelam di dalam telaga. Ia juga menambahkan, permukaan air telaga tidak hanya satu warna saja. Sebagian berwarna hijau tosca, hijau dan biru tosca. Warna-warni permukaan telaga ini sangat menyegarkan mata.

 

Bersantai menikmati telaga di atas pohon tumbang

Duduk di atas pohon tumbang salah satu cara menikmati Telaga Ariresbo. Foto oleh Kristin Simanjuntak

Menikmati alam tidak perlu sambil berteduh di dalam pondok atau di bawah payung berwarna-warni sambil ditemani jus jeruk ala tempat-tempat wisata yang mewah. Cukup dengan duduk santai di atas pohon tumbang sambil merendamkan kaki ke dalam telaga. Dinginnya air telaga ditambah riuh canda tawa dilengkapi lagi dengan kicauan suara burung, membuat nyaman dan tentram di hati.

Jika ingin lebih puas lagi berenanglah dan masuk ke dalam telaga. Partikel-partikel air yang dingin akan merasuk ke tubuhmu, sejenak kamu akan lupa sedang berada di mana.

 

Empat orang pertama dari kota Biak selain warga kampung Warbon yang pernah datang di Telaga Ariresbo

4 kaki yang pertama selain warga kampung warbon tiba di Telaga Ariresbo. Foto oleh Pay Itsia

Yoseph, Icha, Pay dan Kristin adalah orang dari Kota Biak yang pertama datang ke Telaga Ariresbo”, begitulah menurut Pak Abraw. Bahkan menurut kepala desa itu warga kampung Warbon juga belum semua mengetahui keberadaan telaga ini.

Kegirangan pun tergambar di muka mereka. Karena mereka telah mencatatkan rekor baru dalam petualangannya di Biak. Memang tidak ada hadiah yang berarti yang mereka dapatkan. Tetapi ini adalah suatu kebanggan tersendiri bagi mereka.

Selama ini mereka selalu mencari destinasi baru di Biak, kadang mereka dapatkan dari teman dan mendapatkan informasi dari para penduduk di Pulau Biak.

Ketika weekend tiba, selalu ada rencana untuk bertualang. Bertualang keluar masuk hutan di Biak adalah hal yang biasa mereka lakukan. Tak perduli berapa jauh mereka berjalan yang pasti mereka punya satu tujuan yaitu “Keindahan Alam”.

Telaga Ariresbo tidak jauh dari Pantai Arires. Jaraknya hanya 300 meter. Tinggal turun dari telaga dan berjalan ke pantai. Di Pantai ini beberapa warga kampung Warbon sedang asyik memancing.

Pantai Arires berpasir putih nan lembut. Foto oleh Pay Itsia

Pantai Arires bentuknya memanjang. Sepanjang pantai dipenuhi pasir putih nan lembut. Pantai ini juga berhadapan langsung dengan Samudera Pasifik. Ombaknya lumayan besar, sesekali sapuan ombak membuat pasir datar dan terlihat bersih kembali.

***

Pulau Biak hanyalah sebuah pulau kecil di antara pulau-pulau lain di Papua bahkan di Indonesia. Walau kecil, sangat banyak destinasi-destinasi di dalamnya yang layak untuk di kunjungi. Telaga Saon Ariresbo hanyalah salah satu yang baru terlihat, namun siapa sangka di lain waktu ada lagi destinasi yang muncul.

 

Destinasi baru selalu menjadi magnet tersendiri bagi manusia. Namun ada baiknya juga kita datang untuk menikmatinya dan bukan datang untuk merusaknya

SHARE :



REKOMENDASI




ARTIKEL KEREN PALING BARU