Pelajaran Berharga dari Suku Sasak, Nusa Tenggara Barat

Sebuah wejangan tentang kehidupan dari seorang nenek tua dari Suku Sasak, Nusa Tenggara Barat.

SHARE :

Ditulis Oleh: Anzil Laila

Foto oleh Anzil Laila

Setiap perjalanan memberikan tutur katanya sendiri.

Aku mengawali tahun dengan memulai kisah perjalananku di sebuah pulau. Pulau dengan segala kearifan lokal dan keindahan alam yang tiada tara. Pulau yang masih asing di negerinya sendiri. Ia adalah Pulau Lombok.

Pulau eksotis yang terletak di Nusa Tenggara Barat ini, telah turut memberikan jawaban-jawaban dari pertanyaanku sekaligus membuatku mempertanyakan hal-hal baru yang kutemui selama perjalananku untuk mengenal pulau ini.

Kearifan lokal Suku Sasak ditengah modernitas

Bus mini mengantarku menuju sebuah desa yang masih mempertahankan tradisi suku sasak di tengah-tengah modernitas.

Desa yang akan kukunjungi terletak di dusun Sade, desa Rembitan, Pujut, Lombok Tengah.

Perjalanan belum jauh setelah aku meninggalkan bandar udara internasional Lombok.

Deretan rumah dan suasana penduduk lokal setempat di sepanjang jalan yang kulalui terlihat masih sangat asri. Suasana pedesaan yang masih alami sangat terasa. Rumah-rumah tradisional Suku Sasak yang biasa disebut dengan Bale Tani.

Atapnya menggunakan jerami. Dindingnya berbahan dasar pohon bambu, sama halnya di jawa yang biasa disebut dengan bedek.

Bentuk atapnya unik sebagai simbol khas rumah adat sasak dan lantainya yang masih beralaskan tanah. Penduduk setempat yang sedang berladang di kebun-kebun, bocah-bocah Sasak yang masih lugu tampak bermain dengan hewan-hewan gembala, menjadi pemandangan yang menyambutku di sepanjang perjalanan menuju desa Sade.

Sebuah pemandangan yang kontras. Pembangunan bandar udara sebagai salah satu bentuk kemajuan pembangunan infrastruktur di pulau ini, tak melunturkan suasana pedesaan asli Suku Sasak di sekitarnya.

Tak ada yang berani menjamin sampai kapan hal itu akan bertahan. Modernitas yang kian mendesak pulau ini demi mengenalkan eksotismenya di negerinya sendiri dan di mata dunia semoga tak berimbas pada melunturnya makna kearifan lokal yang ada.

Pesan dibalik Gendang Beleq dan Peresean

Begitu sampai di desa Sade, aku dan rombongan lain yang juga kebetulan baru sampai disuguhi dengan tarian khas Lombok.

Berbagai macam tarian suku sasak ditampilkan. Sajian pertama adalah tari Gendang Beleq.

Tarian ini dibawakan oleh dua orang pria suku sasak paruh baya yang masing-masing membawa gendang sebagai media utama.

Bentuk gendang yang dipakai sama halnya dengan gendang di Jawa pada umumnya. Dua Sekaha atau penari Tari Beleq dalam bahasa sasak, tampak memainkan gendang besar yang dikalungkan.

Refleksi gerakan tubuh sekaha menyatu dalam irama gendang yang ditabuh. Tarian ini mengajarkanku arti semangat dalam setiap irama perjalanan kehidupan. Sama halnya dengan irama gendang beleq, bahwa hidup adalah sebuah irama dan manusia adalah para penarinya.

Tarian selanjutnya adalah Peresean.

Dua orang lelaki bersenjatakan tongkat rotan dan berperisai kulit kerbau yang tebal dan keras mulai menari mengikuti alunan musik tradisional Suku Sasak.

Alunan musik terdengar semakin keras dan bersemangat. Masing-masing mulai menyerang dan mempertahankan diri. Sebuah kolaborasi antara pukulan tongkat rotan dan tangkisan perisai kulit kerbau tampak bergerak cepat dan tangkas.

Mereka saling menyerang satu sama lain. Ada pukulan tepat sasaran, ada tangkisan yang tak tepat. Tubuh para penari mulai tergores tajamnya tongkat rotan.

Pertarungan kian memanas, pengunjung mulai terbawa suasana. Tarian ini diakhiri dengan jabat tangan diantara kedua pemain sebagai simbol perdamaian dan tak ada dendam.

Peresean mengajarkanku arti keberanian menjalani hidup dan melawan ego diri sendiri. Sama halnya dengan para pemain dan penari peresean, mereka tak gentar dengan rasa sakit saat bertarung.

Makna tersirat di tiap nafas budaya Suku Sasak

Setelah usai, aku berkeliling menyusuri seluruh kawasan Desa Sade.

Aku berkeliling dari rumah satu ke rumah yang lain. Penduduk sekitar menawarkan berbagai macam hasil kerajinan khas suku sasak.

Di sini, penduduk menjual hasil kerajinan di depan rumah mereka masing-masing. Berbagai kain tenun, dan sarung khas suku sasak, serta aneka macam souvenir mulai dari cincin, gelang, kalung, patung, serta mainan anak tradisional khas suku sasak dijual.

Tak jarang akan banyak ditemui pemandangan dimana mereka sedang memintal benang dan menenun kain secara tradisional di bale rumah.

Ada tatapan lugu seorang bocah kecil polos Sasak yang mengintip dari balik jendela.

Ia lalu berlari keluar begitu tahu aku sedang memotretnya. Dia tampak penasaran dengan kamera yang kubawa.

Aku menyapanya ramah, ia tampak malu-malu. Kemudian ia mengajakku masuk ke dalam rumahnya. Lalu tak lama kemudian ibunya datang dari dalam dan mempersilakanku masuk dengan ramah.

Tampak desain tata ruang rumah adat suku sasak yang sedikit berbeda dari kebanyakan rumah adat di jawa.

Perbedaan itu terletak pada sebuah kamar khusus yang dibuat untuk anak gadis mereka.

Kamar itu terletak khusus di atas atau di lantai dua serta terpisah dengan ruangan-ruangan yang lain. Setelah berkenalan sebentar, aku pamit dan melanjutkan berkeliling dari rumah ke rumah.

Desa ini cukup luas dengan tata letak rumah yang saling berdekatan. Karena rata-rata penduduk di sini masih tergolong saudara dan mempunyai hubungan darah yang sama.

Latar belakang itulah yang menjadikan desa ini tampak begitu damai dalam semangat kekeluargaan dan keramahan mereka yang masih arif dan terjaga.

Percakapan ringan dengan nenek Suku Sasak

Setelah puas berkeliling dan mengabadikannya lewat kamera yang kubawa, sampailah aku di ujung desa ini.

Aku mengunjungi salah satu rumah penduduk suku sasak yang terletak paling ujung.

Tampak seorang ninik Sasak sedang memintal kapas menjadi benang di depan rumahnya. Sebuah rumah adat suku sasak yang unik. ‘Ninik’ berarti nenek dalam bahasa sasak.

‘Selamat sore, Nik. Permisi,’ seorang nenek nampak asyik memintal benang.

‘Iya, nak. Ayo, sini masuk bale, Nak,’ nenek itu menyambutku dengan senyuman ramahnya.

Brembe kabar, Nik?‘ tanyaku mengawali perbincangan kami yang berarti bagaimana kabarnya dalam bahasa Suku Sasak yang sempat kupelajari dari kawan seperjalanan.

Kabar solah, Nak,’ jawab nenek itu dalam bahasa sasak yang belakangan aku tahu artinya adalah kabar baik.

Ninik sedang apa?’ tanyaku sambil duduk mendekati nenek itu.

Memintal benang menjadi kapas, Nak. Asalnya darimana, Nak?’

Dari Surabaya, Nik. Boleh saya berbincang dengan ninik?’ tanyaku.

Iya, boleh Nak. Wah, jauh ya, Nak. Surabaya berarti orang jawa ya? Jawa yang berarti jiwo kang kajawi,’ jawab nenek sambil tersenyum ramah padaku.

Iya, Nik saya orang jawa. Wah, ninik tahu banyak ya tentang jawa.’

Aku pikir jangan-jangan nenek ini tahu lebih banyak tentang budaya jawa daripada aku. Aku semakin antusias melanjutkan perbincangan ini.

Jiwo kang kajawi yang berarti ruh yang mendominasi tubuh. Tidak jauh berbeda dengan lombok atau lombo yang berarti lurus, Nak. Dulu nenek juga suka berpergian jauh sepertimu, Nak.’

Beliau melanjutkan penjelasannya. Nenek ini tahu tentang arti kata jawa yang bahkan aku sebagai orang jawa sendiri belum pernah tahu maknanya.

Makna lurus yang dimaksud itu seperti apa, Nik?’ lanjutku bertanya penuh antusiasme. Aku semakin penasaran.

Lurus dalam hal ini mempunyai makna luas, Nak. Lurus dalam hal budi pekerti, akal, pikiran, hati, tindak tanduk, tutur kata, cita-cita, harapan, keinginan, pencapaian, dan kehidupan. Sama seperti jiwo kang kajawi yang juga mempunyai arti luas, Nak. Ruh yang mendominasi tubuh maksudnya hati nurani yang lurus harus senantiasa menjiwai segala nafas kehidupan,’ tutur beliau menjelaskan dengan ramah padaku.

Belakangan aku merasa semakin malu dengan diriku sendiri yang belum mengenal budaya tempat kelahiranku sendiri.

Aku mendapat jawaban makna kata “jawa” justru dari orang Suku Sasak, dari percakapanku yang sarat makna dengan nenek ini.

Oh ya, Nik, tadi saya juga sempat mampir ke salah satu rumah adat Suku Sasak di sini. Nah, ketika saya dipersilakan masuk, saya melihat ada kamar untuk gadis sasak yang khusus ditempatkan di atas. Itu maknanya apa, Nik?’ tanyaku setelah puas mendapat penjelasan tentang asal usul arti kata “Lombok”, juga “Jawa” sebagai bonusnya.

Tradisi Lombok sangat menjunjung tinggi martabat perempuan, Nak. Itulah mengapa suku sasak sangat melindungi anak gadisnya, sehingga di setiap rumah dari orang sasak di lantai dua atau di atas selalu adalah kamar anak gadis mereka atau kamar seorang istri jika belum atau tidak memiliki anak gadis.’

Ninik melanjutkan ceritanya.

Nenek jadi ingat ketika nenek berkunjung ke Jawa saat nenek masih muda dulu. Nenek kagum sekali dengan suara sinden dari gadis jawa. Nak, bisa sinden? Nenek suka sekali dengan serat wedhatama yang berjudul pupuh pangkur. Pupuh pangkur itu yang membuat nenek jatuh hati pada Jawa,’ beliau melanjutkan penjelasannya, dan membuatku semakin penasaran dengan arah perbincanganku dengan ninik sasak ini.

Aku ingin menggali lebih banyak informasi mengenai nenek ini yang tahu banyak tentang Jawa.

Bagaimana ceritanya, Nik? Bagaimana ninik bisa tahu banyak hal tentang Jawa?” Aku tak sabar ingin mencari tahu sebabnya.

Begini Nak, saat nenek masih muda dulu, ada teman nenek yang memberi tahu dan bercerita tentang pagelaran wayang di pulau jawa. Nah, nenek penasaran ingin melihatnya secara langsung. Lalu nenek berkunjung ke Yogyakarta. Salah satu tembang yang dibawakan adalah pupuh pangkur. Namun, kebetulan sindennya waktu itu bukan seorang gadis. Tapi seorang pemuda jawa seumuran dengan ninik saat itu.’

Karena ninik tidak tahu arti tembang yang dibawakan saat itu, seusai pagelaran, ninik langsung bertanya pada pemuda itu. Dia menjelaskan banyak hal. Tak hanya tentang tembang pupuh pangkur dan pagelaran wayang, namun juga banyak hal tentang kebudayaan jawa. Sampai akhirnya ninik semakin penasaran dengan kebudayaan jawa dan tradisi serta adat istiadatnya. Sejak saat itulah ninik jatuh cinta pada jawa dan pemuda itu yang sekarang adalah suami ninik,’ beliau menceritakan dengan senyum yang selalu menghiasi setiap tutur katanya.

Karena teringat saat dimana pertama kali beliau jatuh hati pada Jawa dan salah satu pemudanya. Belakangan aku paham mengapa nenek ini begitu tahu banyak hal tentang Jawa, karena suami beliau ternyata adalah orang Jawa.

Wah, ternyata suami ninik orang Jawa juga. Baik Nik, saya mau pamit. Senang rasanya dapat berbincang dengan Ninik.’

Ingin rasanya berbincang-bincang lebih lama dengan nenek ini.

Namun, karena waktu yang mengharuskanku melanjutkan perjalanan selanjutnya untuk menemukan eksotisme lainnya dari pulau ini, maka aku harus mengakhiri perbincangan sarat makna dengan nenek ini.

Iya, Nak. Hati-hati di perjalanan dan jangan lupa tonton juga mahakarya senja di Pulau Gili yang jadi primadona. Temukan juga pembelajaran lain dari keindahan alam pulau seribu gili ini. Pesan ninik, kenali budaya negeri ini, Nak. Mengenal budaya sendiri sama halnya dengan mengenal diri sendiri dengan baik. Ninik sedih ketika anak muda sekarang mulai melupakan nilai-nilai luhur tanah kelahirannya. Jadilah gadis yang menjaga nilai-nilai luhur budaya tanah kelahiran, Nak.’

Baik Nik, terimakasih atas pembelajarannya. Juga kesediaan ninik untuk meluangkan waktu berbagi cerita dengan saya. Terimakasih banyak, Nik. Semoga suatu saat nanti saya bisa kembali ke sini dan melanjutkan perbincangan dengan ninik lagi,’ ujarku menutup perbincangan.

Lalu tak lupa aku mengajak ninik berfoto bersama untuk mengabadikan kesempatan kecil yang luar biasa ini.

Sebuah pesan luhur dibalik setiap hembusan nafas budaya sasak.

Mulai dari tarian khas Suku Sasak hingga makna tersirat dari sebuah desain tata ruang rumah adat Suku Sasak.

Menu pembuka yang luar biasa bergizi untuk destinasi pertamaku di pulau lombok.

Di desa Sade, aku mendapat pelajaran yang luar biasa dari seorang ninik sasak yang arif dan ramah. Tentang budaya yang dapat menyatukan ninik dengan suaminya. Karena budaya juga yang membuat beliaau melakukan sebuah perjalanan saat ia masih muda.

Perjalanan ke desa Sade adalah sebuah tamparan keras untukku.

Aku mengenal budayaku sendiri justru dari seorang ninik sasak, yang memiliki latar belakang budaya yang berbeda denganku.

Benar kata ninik, bahwa mengenal budaya negeri sendiri sama halnya dengan mengenal diri sendiri. Perjalanan selalu memiliki tutur katanya sendiri.

Sekali lagi, aku mendapat petuah dari sertiap esensinya.

 

Artikel ini juga bisa kamu baca di Malesbanget.com

SHARE :



REKOMENDASI




ARTIKEL KEREN PALING BARU