Ketika Naik Gunung Jadi Ajang Eksis Traveler Karbitan

Kini banyak orang yang mengaku traveler sejati, hanya karena telah naik gunung. Sayangnya, kini banyak traveler tak bertanggungjawab ikut ambil bagian.

Desti Artanti • April 29, 2016

naik-gunung

Foto diambil dari sini

Ketika kita benar-benar menyukai traveling, pasti kita akan mencari tahu, mana yang boleh dan tidak boleh dilakukan, bukannya bertindak acuh tak acuh, dan merusak lingkungan

Sejujurnya, apa alasan yang mendorong Anda melakukan traveling? Tidakkah hal tersebut hanya menghabiskan uang dan waktu Anda? Belum lagi tenaga yang terkuras habis sesaat setelah melancong. Bagaimana Aanda menyikapi petanyaan-pertanyaan demikian?

Mudah saja untuk menjawab pertanyaan tersebut. Tak masalah uang keluar bahkan sampai habis dengan menguras tabungan, asalkan bisa melampiaskan rasa lelah karena rutinitas. Tak masalah pula tenaga habis, asalkan bisa check list lokasi kunjungan di objek wisata.

Melihat hal tersebut, rasanya traveling kini adalah hal yang lumrah. Ada waktu luang, segera angkat koper atau ransel. Sudah siap menguras uang tabungan? Segera backpacker-an ke luar negeri. Ya, tak ada yang aneh, bahkan kini kegiatan traveling didukung oleh banyak pihak, mulai dari pemerintah, pihak swasta, blogger, travel agent, dll.

Namun soal alasan, masing-masing individu punya alasan sendiri. Kegiatan naik gunung misalnya, kini siapapun bisa melakukannya, bahkan tanpa persiapan yang cukup untuk naik gunung. Para pendaki dadakan kini banyak muncul, memenuhi puncak gunung, banyak membuang sampah di perjalanan, dan bahkan sampai lalai mematikan api unggun di puncak gunung dengan benar. Duh!

Wahai pendaki dadakan, apalah arti foto selfie narsis di puncak gunung ketika engkau bahkan tidak bisa membedakan mana kantong sampah, mana semak semak. Apalah arti naik gunung, bila engkau hanya menumpaskan galau, berpesta, dan mengganggu ketenangan pendaki lainnya?

Fenomena traveler karbitan

Tak masalah jika Anda baru memulai kegiatan traveling saat fenomena traveling sedang booming. Tak masalah pula bila Anda hanya punya waktu singkat untuk bepergian, pun dengan bujet dan persiapan yang minim. Inilah yang saya sebut dengan fenomena traveler karbitan, yang seringkali memanfaatkan traveling, sekadar untuk pelampiasan.

Tak ada yang salah dengan niat mencari pelampiasan dengan melakukan traveling, misalnya naik gunung atau berlibur ke pantai, saya pun melakukannya, banyak orang melakukannya.

Yang salah adalah ketika ‘ajang pelampiasan’ tersebut merugikan orang lain!

Banyak yang melakukan perjalanan hanya ingin berfoto-foto di destinasi, mengeluh, tidak menaati aturan di objek wisata, dan seringkali mengabaikan keselamatan.

Saya rasa mereka tidak benar-benar menyukai traveling. Inilah hal tidak bertanggungjawab yang jujur membuat saya geram dan sering kesal sendiri dengan tingkah mereka.

Masih jelas di ingatan saya, di mana beberapa waktu lalu kebun bunga amarilis di Jogja rusak parah akibat diinjak-injak oleh pengunjung. Tak sampai di situ, bahkan beberapa pengunjung merasa berhak untuk menginjak dan merusak, karena merasa telah membayar uang masuk. Tidakkah mereka tahu, bahwa uang retribusi itu seharusnya adalah bentuk apresiasi bagi pemilik kebun? Bentuk ucapan terimakasih karena bisa berfoto-foto ala foto di kebun bunga di Eropa sana?

Ketika kita benar-benar menyukai traveling, pasti kita akan mencari tahu, mana yang boleh dan tidak boleh dilakukan, bukannya bertindak acuh tak acuh, dan merusak lingkungan.

Ah, sudahlah. Nyatanya saya juga traveler karbitan, yang sering bepergian mendadak tanpa persiapan matang.  Yang traveling karena mengikut tren. Namun setidaknya, ada kesadaran dalam diri seorang traveler karbitan ini, untuk berusaha tahu mana hal yang boleh, dan tak boleh dilakukan saat traveling.

 

Baca juga: