Dijambret di Distrik 1 Ho Chi Minh City

Mia Kamila • January 3, 2017

Mata masih enggan untuk seratus persen terbuka dan nyawa pun sepertinya masih tertinggal dalam jog Sleeper bus yang kami tumpangi. Saya melirik posisi jarum jam. ‘Oke, masih jam empat pagi.’

Saya dan ke-3 teman perjalanan; Je, Dhev dan Amga, baru saja turun dari sleeper bus yang membawa kami ke Saigon setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih 9 jam dari Nha Trang.

jambret di ho chi minh city

Foto oleh Jemzamanda

“Sekarang, kita harus mencari hotel yang sudah dipesan,” Je membuka ponsel untuk melihat data pesanan hotel beserta alamatnya.

“7 Yersin, Cau Ong Lanh, Distrik 1, berarti deket-deket sini,” sambung Je sambil ia melihat peta dalam ponselnya.

“Kalau dekat, kita jalan kaki aja,” celetuk saya sambil menguap menahan ngantuk. “Hemat juga, gitu,” sambung saya lagi.

Traveler seperti kami memang mengandalkan serba hemat. Intinya nggak boleh manja. Kalau bisa dibayar dengan harga murah kenapa harus bayar mahal?

Usulan saya disetujui oleh mereka. Jalan kaki menuju hotel adalah pilihan yang tepat dan hemat. Kami pun berjalan menyusuri trotoar sepanjang distrik 1.

Kawasan ini merupakan kawasan yang cukup ramai. Tempat karaoke, bar, restoran dan tempat spa, semuanya ada dan banyak sekali wisatawan yang lalu lalang di kawasan tersebut.

Namun, pagi itu hanya ada sisa-sisa keramaian semalam. Kafe-kafe sudah tutup, hanya terlihat beberapa turis yang lalu lalang kembali ke penginapan mereka, bahkan ada yang masih terlihat nongkrong di dalam coffee shop dan hanya Circle K yang masih terlihat terang lantaran masih buka.

Ritme jalan kami terbilang santai, alih-alih menikmati fajar menyingsing dan memperhatikan aktivitas warga lokal di Saigon.

“Masih jauh ndak?” tanya saya kepada Je yang dari tadi memegang navigator rute perjalanan.

“Sebentar….!” suara Je menghentikan langkah kami bersamaan.

“Ada apa Je?” tanya Dhev.

“GPS-nya ngadat, sepertinya sinyalnya bermasalah,” Je menatap layar ponselnya dan menggerak-gerakkan ponselnya di udara berusaha menangkap sinyal.

“Pake handphoneku Je, kali aja bisa.” Dhev mengeluarkan ponselnya. “Mana alamatnya?”

Mereka berdua sibuk mencari jalan keluar sementara saya terpaku sambil meliat-lihat suasana. Sesekali saya terkekeh mendengar suara pedagang street food keliling. Mendadak ingat peristiwa pertama kali kami datang di Saigon, kami terkena scam oleh pedagang street food.

“Oke, beres, kita lanjutkan perjalanan!” Je menepuk pundak saya.

“O..oo…! Ini kita ambil arah mana?” Je kembali bersuara, dengan nada ragu ketika kami tiba di sebuah perempatan.

“Bentar kita lihat, ini kalau ndak salah kita ke kiri. ” Je bergantian melihat peta pada ponsel Dhev dan menatap ponsel miliknya yang sedari tadi tak menunjukkan pergarakan pada navigatornya.

“Bukan, ini ke kanan!” seru Dhev.

“Yakin? Bukannya Dhev itu tak bisa membaca gps ya?” saya berbisik lirih kepada Amga yang dari tadi diam.

“Sssst…diam!” jawabnya.

Oke, saya hanya bisa berharap lokasi hotel cepat ketemu dan kali ini Dhev tidak salah baca peta. Sedikit rasa khawatir muncul dalam benak saya karena beberapa hari lalu Dhev memberikan sebuah pengakuan bahwa dia tidak bisa membaca GPS. Namun, saya masih berusaha berpikir positif akan hal itu, semoga saja yang dikatakan Dhev waktu itu bohong.

***

jambret di ho chi minh city

Foto oleh Jemzamanda

Kali ini kami berjalan dua-dua. Saya bersama Dhev berjalan beriringan di depan, sementara Amga dan Je berada di belakang kami.

Sepanjang perjalanan Je masih memegangi handphonenya dan masih mencari arah, berusaha agar navigatornya dapat bekerja dengan baik. Dia mengangkat tangannya dan mengarahkan ponsel di depan wajahnya.

Saya asyik mengamati sekeliling. Sepanjang jalan banyak warga lokal yang sedang menata dagangannya. Ternyata jalan tersebut merupakan ‘pasar kaget’. Banyak sekali pedagang sayur mayur berteriak menawarkan dagangannya.

Saat menyapu pandangan ke arah seberang jalan, pandangan saya sempat tertuju pada pengendara sepeda motor yang cukup mencurigakan. Sepertinya ia sedang mengamati kami. Namun, karena tak mau berburuk sangka, saya memutuskan untuk mengabaikannya.

Saat sedang santai berjalan, tiba-tiba,

“Woi!” Je berteriak kencang.

Reflek, saya dan Dhev berhenti dan menengok ke belakang, “ada apa?” tanya kami serempak.

“Itu!” Je tengah memegangi tas slempang kecilnya. “Aku mau dijambret!”

Sontak kami kaget. “Kita cari CK dulu aja yuk, kok aku jadi gak yakin jalan kita benar,” usul saya.

Akhirnya kami berjalan ke ujung jalan untuk mencari Circle K terdekat. Untunglah tak jauh dari sana terdapat Circle K. Amga masuk ke dalam Circle K dan membeli dua botol air mineral. Sedangkan saya, Je dan Dhev menunggu di luar.

Je, menceritakan kronologi kejadian penjambretan tersebut. Ternyata seseorang bersepeda motor berusaha menarik tas selempang milik Je. Untung saja tas kecil itu cukup kuat dan tidak berhasil terlepas. Padahal tangan si jambret sudah menyentuh benda tersebut.

Prasangka buruk saya ternyata benar. Nampaknya pengendara motor di seberang jalan yang kami lalui itu bergerak maju berlawanan arah kami, namun saya tak tahu bahwa pria tersebut mendekati Je yang ada di belakang kami. Untungnya, ketika pria tersebut gagal dia segera kabur dan tidak mengikuti kami atau mencoba merampasnya dengan kekerasan.

“Itu mas-masnya yang berhenti di depan coffee shop tadi, pas GPS kita ngadat,” kata Amga tiba-tiba yang keluar dari dalam Circle K sambil menyodorkan dua botol air mineral untuk kami.

Pagi itu kami dilanda kepanikan. Sekujur tubuh terasa bergetar dan lemas. Jujur saja, kami takut dan sedikit trauma akan kejadian tersebut.

“Tenang dulu, kita pikirkan jalan keluarnya,” kata Amga.

Je mencoba me-restart handphonenya kemudian kembali mencari lokasi hotel “Phuc Khanh”.

Tara..! GPS kembali normal dan ternyata kami tersesat! Kami salah mengambil jalan ketika di perempatan tadi. Harusnya kami mengambil arah ke kiri, namun kami malah mengambil arah kanan sesuai anjuran Dhev.

Setelah sudah mulai tenang, kami pun melanjutkan perjalanan dengan cara mencatat rute dan nama jalan ke dalam buku catatan kecil milik saya, sebagai panduan arah jalan. Seharusnya kami berbalik arah, tapi karena kami takut dan trauma melewati jalan tersebut akhirnya kami harus memutar mencari rute yang lain.

Kami melangkah dengan pasti tanpa membawa benda apapun di tangan kecuali buku catatan saya. Setidaknya kami tak mengeluarkan barang berharga.

Tak lama berjalan, akhirnya kami menemukan lokasi hotel tersebut. Betapa sumringah wajah kami melihat sebuah papan yang penuh lampu warna-warni bertuliskan “Phuc Khanh”. Hotel tersebut nampak tertutup pintu besi dengan sedikit celah sekitar 20cm. Dari luar, kami melihat ada seorang pria yang sedang tidur di atas kursi kayu dan sebuah kipas angin mengarah padanya.

Setelah sepuluh menit mengetuk-ngetuk pintu, pria itu pun terbangun dan mempersilakan kami masuk dengan ramah. Akhirnya!
Saat itu kami tak ingin apa-apa kecuali mandi dan merebahkan tubuh di kasur.

 

***

Bagi saya, pagi itu merupakan pelajaran berharga, sebuah kejutan di hari ulang tahun saya: teman saya nyaris dijambret! Masih beruntung di antara kami tidak ada yang terluka dan kehilangan barang. Tak bisa dibayangkan bila tas kecil milik Je raib oleh si jambret, mungkin hari itu kami batal city tour dan malah berkunjung ke KBRI.


Sering bingung mencari ide menulis? Simak bagaimana cara Windy Ariestanty mencari ide kreatif



Tinggalkan Komentar



Artikel Terkait