Ini yang Harus Dihindari Ketika Mendaki Gunung Sibuatan

Pendakian ke Gunung Sibuatan sangatlah berbeda dengan pendakian Gunung Sibayak yang notabenenya sebagai gunung rekreasi bagi sebagian kaum pendaki khususnya di Sumatera Utara.

Ibnu Sandyansyah Hutabarat • September 26, 2016

Gunung Sibuatan memang kalah pamor dari gunung-gunung tetangganya. Seperti Gunung Sibayak ataupun Gunung Sinabung. Walaupun Gunung Sibuatan bukanlah gunung aktif tetapi Gunung Sibuatan memegang rekor sebagai gunung tertinggi di Sumatera Utara. Gunung ini memiliki ketinggian 2457 mdpl. Keunikan lainnya dari gunung ini adalah masih banyaknya dijumpai tumbuhan kantong semar (nepenthes) di sepanjang jalur pendakian.

gunung sibuatan

Foto merupakan dokumentasi pribadi penulis

Pendakian ke Gunung Sibuatan sangatlah berbeda dengan pendakian Gunung Sibayak yang notabenenya sebagai gunung rekreasi bagi sebagian kaum pendaki khususnya di Sumatera Utara. Dengan waktu pendakian sekitar 7 jam, kita akan melewati jalan berlumpur (bahkan kedalaman lumpur bisa sampai ketinggian lutut saat hujan tiba) dan tentunya akan melewati akar-akar pohon besar (karena hutan masih padat dan lebat) yang kadang mengharuskan untuk merangkak untuk melewatinya.

Hal-hal yang akan dibahas di bawah ini mungkin juga terjadi untuk gunung-gunung lain yang ada di Indonesia khususnya.

Menggunakan sandal gunung

Sebagian dari pendaki lebih nyaman menggunakan sandal gunung daripada sepatu gunung. Selain lebih ringan juga lebih nyaman dikaki karena tidak terbungkus berjam-jam lamanya. Tapi untuk pendakian gunung sibuatan sebaiknya gunakanlah sepatu. Bayangkan tebalnya lumpur membuat kita memilih tapak sana tapak sini untuk menghindarinya jika menggunakan sandal. Karena hal sepele ini membuat waktu pendakian kita semakin lama. Kadang jika dipaksakan memijak lumpur yang tebal dengan sandal sangat berisiko untuk putus tali sandal dan terasa risih karena lumpur menempel di kaki kita.

Jika kita menggunakan sepatu maka kita tinggal jalan terus tanpa khawatir lumpur karena kaki kita sudah terlindungi sepatu.

Berangkat dari pos pintu rimba di atas jam 12 siang

Bagi pendaki khusunya di Sumatera Utara bukanlah rahasia lagi jika mendaki ke Gunung Sibuatan harus di bawah jam 12 siang. Hal ini dikarenakan untuk mengurangi risiko-risiko tidak diinginkan dalam pendakian seperti tersesat ataupun keluar dari jalur pendakian. Bahkan pihak pengelola melarang pendakian di atas jam 12 siang (bagi pendaki yang belum pernah ke Gunung Sibuatan). Saat ini jalur pendakian untuk Gunung Sibuatan hanya 1 untuk umum yaitu dari Desa Nagalingga.

Pengelolaan Gunung Sibuatan dilakukan secara mandiri oleh pemuda yang ada di Desa Nagalingga mengatasnamakan Generasi Muda Pelestari (Gempari) Nagalingga. Gunung Sibuatan saat ini memiliki 5 shelter. Di shelter 3 dan shelter 4 ada tempat istirahat seperti panggung yang dibuat dari kayu. Untuk mendirikan tenda sangatlah tidak dianjurkan karena panggung dari kayu tersebut berjarak-jarak alasnya (berongga). Sebaiknya mendirikan tenda di shelter 5 yang memang adalah area camp.

Dari shelter 5 ke puncak pilar bertuliskan SEC TRIANG No. 191 berjarak sekitar 15 menit. Oleh karena itu tempat yang paling dianjurkan untuk mendirikan tenda adalah shelter 5.

Logistik yang tidak memadai

Uniknya dari pendakian Gunung Sibuatan adalah untuk urusan airnya. Karena sumber air cuma berada di dekat pos pintu rimba (pos awal pendakian). Walaupun ada sebagian orang mengatakan ada sumber air lain di jalur pendakaian tetapi hal ini mungkin sengaja dirahasiakan pihak pengelola untuk alasan-alasan tertentu. Misalnya untuk menghindari kontak dengan binatang buas. Maka dari itu untuk urusan logistik sebaiknya direncanakan dengan sebaik-baiknya. Hal ini juga yang menambah tantangan untuk mendaki gunung sibuatan karena kita harus memikul dari bawah air untuk minum dan masak nanti selama kita di atas.

Bahkan di sini saya pribadi mengacungkan jempol untuk pihak pengelola Gunung Sibuatan dikarenakan sebelum kita diperbolehkan untuk mendaki Gunung Sibuatan. Pihak pengelola akan memeriksa dan mencatat logistik yang dibawa dan akan disesuaikan dengan waktu kita menginap di atas nanti. Jika menurut pihak pengelola logistik yang dibawa tidak cukup maka diharuskan untuk melengkapinya terlebih dahulu sesuai perkiraan dari mereka. Jika tidak terpenuhi maka tidak akan diizinkan untuk mendaki Gunung Sibuatan. Contoh logistik yang paling dipantau adalah air, pengobatan dan penerangan. Dan di sini salah satu pendaki wajib meninggalkan identitasnya misalnya : KTP sebagai jaminan jika sudah diizinkan untuk melakukan pendakian.

Baca juga:

Meninggalkan sampah walaupun hanya puntung rokok

Hal inilah yang paling membedakan pendakian Gunung Sibuatan dengan Gunung Sibayak. Jika Gunung Sibayak hanya mengandalkan kesadaran sendiri untuk urusan sampah berbeda dengan pengelola gunung Sibuatan. Sebelum berangkat semua logistik kita akan dicatat. Terutama yang berpotensi menghasilkan sampah salah satu contohnya rokok. Tidak dipungkiri lagi bagi sebagian pendaki jika rokok adalah temannya pengusir dingin. Disini misalnya kita membawa sebungkus rokok berisi 12 batang. Maka akan dicatat secara detail isi dari rokok tersebut.

Setelah pulang dari pendakian maka akan diperiksa kembali di pos pintu rimba. Jika sampah yang kita bawa kurang dari awal pemeriksaan. Misalnya sampah yang kurang adalah 1 atau 2 puntung rokok maka bisa dikenakan sanksi sebesar 500 ribu ataupun bisa diganti mengutip sampah di sekitaran Desa Nagalingga. Maka dari itu disarankan untuk membawa goni ataupun plastik untuk mengutip seluruh sampah selama pendakian. Bahkan jika lupa membawanya, pihak pengelola akan memberikannya.

Tidak membawa jas hujan ataupun jaket waterproof

Hujan adalah ‘teman’ pendakian di Gunung Sibuatan. Karena rata-rata pendakian Gunung Sibuatan selalu diguyur hujan. Curah hujan di daerah gunung ini cukup tinggi.

Pengalaman pribadi waktu di pos pintu rimba, masyarakat sekitar kaki gunung bercerita sudah 2 minggu hujan tidak turun, perasaan senang pun menghampiri karena sepertinya tidak akan turun hujan waktu melihat cuaca cerah di pagi hari. Setibanya dari shelter 3 harapan saya pupus begitu hujan datang dengan lebat tanpa peringatan. Dalam hati seperti mengiyakan bahwa temannya Sibuatan adalah hujan. Makanya saya tidak heran melihat hutan lumut yang subur karena seringnya hujan di daerah hutan jalur pendakian.

Mendirikan tenda di pintu angin

Sebelum sampai shelter 5 akan terlihat tanah datar luas yang disebut pintu angin (dekat dengan tugu penghormatan Mapragatwa). Tanah datar yang luas serta dengan pemandangan bukit-bukit hijau yang menakjubkan. Karena terkecoh oleh pemandangan yang indah kadang terbesit untuk mendirikan tenda di tempat tersebut. Padahal jika kita naik sedikit sudah terlihat shelter 5 dan ada tempat area camp. Jika mendirikan tenda di pintu angin sangat beresiko untuk terkena hembusan angin yang kencang. Hal ini bisa berakibat buruk untuk tenda dan juga suhu tubuh. Oleh karena itu disarankan untuk selalu mendirikan tenda di area camp yang telah disediakan.

Pulang tidak sesuai dengan jadwal yang ditentukan di pos pintu rimba

Sebelum berangkat untuk pendakian akan ada pengecekan identitas dan juga logistik. Di sini akan ada pertanyaan mengenai lamanya kita akan menginap di atas Gunung Sibuatan. Hal ini untuk penyesuaian logistik dengan lama waktu menginap juga berguna untuk mengantisipasi jika terjadi hal buruk selama pendakian. Misalnya kita akan mendaki di hari Rabu dan kita mengatakan 2 malam lamanya menginap maka kita diwajibkan turun saat hari jumat. Jika pada hari Jumat kita juga belum turun maka akan terjadi penjemputan oleh pengelola yaitu GEMPARI Nagalingga. Dan kita diwajibkan turun sebelum jam 6 sore pada hari yang telah disepakati dari awal untuk turun. Karena jika kita sampai pos pintu rimba lewat jam 6 sore maka pengelola yang melakukan pendataan sebelumnya bisa saja sudah pulang. Padahal KTP salah seorang pendaki wajib ditinggal. Hal ini jadi merepotkan diri pendaki dan pihak pengelola.

(Bonus) Memakan tomat tanpa mencucinya

Di dekat pos pintu rimba banyak ladang tomat berhamburan. Karena mata pencaharian masyarakat sekitar adalah petani buah dan sayuran. Jika kita ingin mengambilnya tidak akan dilarang tapi usahakan minta izin terlebih dahulu. Kadang tanpa memintanya kita akan ditawari oleh bapak petani (jika pendakian di hari biasa dan saat panen mau tiba). Hal yang perlu diingat setiap ingin memakan buah yang berada di ladang sebaiknya dicuci terlebih dahulu karena untuk menghilangkan cairan pestisida yang melekat pada buah tersebut. Biasanya buah yang diizinkan untuk diambil adalah tomat dan jambu.