Generasi 2.0 : Generasi Baru Dunia Traveling Indonesia

Trend traveling di Indonesia semakin menanjak. Dari yang awalnya hanya pelengkap, traveling kini menjadi sebuah gaya hidup.

SHARE :

Ditulis Oleh: Shabara Wicaksono

Foto dari Gbtimes

Saat duduk di kelas 3 SD, saya sekeluarga piknik ke kebun binatang lokal. Ibu menyiapkan bekal -beberapa potong ayam goreng dengan tepung tebal, diletakkan dalam wadah pink bertumpuk-tumpuk.

Sementara Ayah memanaskan mobil, saya dan adik menyiapkan alas -sebuah tikar merah yang sering menjadi alas ibadah kami.

Kami duduk beralaskan tikar disebuah pohon beringin besar ,setelah kami lelah berkeliling dan saya lelah menangis akibat dipatuk burung nuri saat berfoto bersama burung berwarna hijau menyala itu. Menikmati bekal yang disiapkan ibu, sembari bercerita berbagai macam hal.

Itulah traveling pertama saya. 

Saya ingat, kami semua merencanakannya sejak berminggu-minggu sebelumnya, mencocokkan jadwal libur ayah dan ibu.

***

Beberapa hari lalu, akun path saya lahir. Agak terlambat memang.

Saya tak tahu untuk apa membuat akun tersebut, bahkan hingga sekarang, saya belum paham cara menggunakannya. Faktor paksaan teman-teman-lah yang membuat saya membuat akun tersebut.

Hampir setiap menit notifikasi baru muncul dari akun itu. Kebanyakan dari mereka yang saya tambahkan sebagai teman memiliki satu kesamaan, hobi traveling!

Saat senggang atau bosan, saya sempatkan memantau lini masa. Sesungguhnya, meski saya tak paham cara menggunakannya -hanya tahu cara menambahkan dan mengomentari postingan orang, melihat foto-foto beberapa teman di berbagai tempat cukup menghibur.

Seorang adik angkatan saat kuliah asal Semarang, 3 hari yang lalu memposting sebuah foto yang sangat menarik. Dua buah gelas es krim  berwarna putih cerah, dengan beberapa buah ceri dan wafer diatasnya, serta sebuah hiasan transparan berbentuk donal bebek di puncaknya. Dalam postingan tersebut, dia memberi tag pada sebuah restoran terkenal di Surabaya. Dia memang cukup rutin traveling. Apalagi jika long weekend, tak akan dia sia-siakan. Dan nampaknya, sekarang Surabaya menjadi tempat yang dia pilih.

Dia memberi deskripsi singkat di fotonya, ‘Mas pelayannya baik, biarpun sempat nahan ketawa karena pakai celemeknya kebalik. Ngeliat tas dan bajuku gambar donal bebek, aku dikasih hadiah hiasan donal diatas es krim. Katanya bisa dimakan, tapi sayang rasanya. Donalnya kayak lagi nari diatas salju.’

Sebuah deskripsi singkat dan terkesan sepele. Sebenarnya, tanpa sebuah foto lengkap-pun, saya dapat membayangkan suasana saat itu, serta bentuk es krimnya.

***

Dulu, piknik atau berwisata adalah kebutuhan tambahan. Orang membutuhkan waktu lama untuk sekadar menentukan akan pergi atau tidak. Piknik, nampak seperti bagian terpisah dari ‘kehidupan’. Bukan sebuah hal yang ‘layak’ untuk dilakukan secara rutin, apalagi masuk sebagai kebutuhan pokok.

Seperti halnya saat saya piknik ke kebun binatang dulu bersama keluarga.

Sekadar menentukan, ‘apakah jadi piknik?’ saja membutuhkan waktu berminggu-minggu.

Setelah diputuskan, tak ada pembahasan tempat mana yang akan dituju, kebun binatang adalah satu-satunya tujuan. Piknik, hanya pelengkap.

Cerita yang dihasilkan adalah apa yang dilihat disana, dan hal-apa saja yang bisa dilakukan disana.

Inilah yang disebut generasi 1.0.

Memasuki dunia sosial media, trend traveling di Indonesia pun ikut menanjak. Traveling dan sosial media tak terpisahkan.

Tahun-tahun belakangan, beranda facebook atupun linimasa twitter selalu ramai oleh postingan foto-foto saat traveling ke destinasi-destinasi populer. Saat Goa Pindul, Jogja menjadi trend di tahun 2012, semua orang berlomba-lomba kesana, agar tak disebut ketinggalan zaman.

Begitupun saat Bromo ataupun Kawah Ijen di Jawa Timur populer di tahun berikutnya, trend postingan doto di beranda Facebook pun bergeser. Hampir semua memamerkan foto sunrise Bromo atau foto api biru di Kawah Ijen.

Saat itu, traveling bukan sekadar pelengkap, traveling seperti menjadi parameter apakah kita termasuk ‘pengikut perkembangan zaman’, atau masuk ke golongan ‘ketinggalan zaman’.

Jadwal pun sudah ditetapkan, tiap akhir bulan/tahun harus berkunjung ke salah satu destinasi populer. Mereka tidak lagi berkutat pada menentukan akan pergi atau tidak, namun lebih pada menentukan tempat mana yang akan dituju.

Mereka adalah generasi 1.5.

Dan sekarang, trend mulai bergeser. Traveling bukan bagian terpisah dari hidup, namun sudah menjadi gaya hidup itu sendiri.

Orang-orang yang telah menjadikan traveling gaya hidup mereka, tidak lagi dipusingkan dengan ‘apa yang akan mereka dapatkan ditempat itu’ atau ‘pantai-pantai populer manakah yang harus dituju saat berada di Lombok’ misalnya. Bahkan terkadang, mereka berkunjung ke satu tempat yang sama beberapa kali, karena mereka yakin akan selalu mendapat hal baru di tempat tersebut.

Mereka tak lagi meributkan apa itu backpacker, atau apakah saya seorang flashpacker, bukan hal-hal dangkal seperti itu yang ada dipikiran mereka.

Mereka membuat sebuah rencana traveling seserius mereka membuat perencanaan sebuah proyek besar di kantor.

Mereka tak hanya mencari destinasi, mereka mencari kepuasan dari perjalanan. Seseorang yang bisa menikmati sebuah perjalanan singkat didalam sebuah bus reyot dalam kota yang penuh asap rokok sekalipun.

Merekalah generasi baru, generasi 2.0.

Mereka membagikan kisah perjalanannya tak hanya dengan foto-foto bisu, namun juga mencantumkan cerita dibaliknya. Seperti yang teman saya lakukan di Surabaya. Dalam foto-foto travelingnya di Surabaya bahkan tak ada satupun foto tentang destinasi, hanya ada foto es krim, foto seorang anak jalanan menyeberankan seorang ibu penjual pecel, atau juga foto sebuah tiang lampu unik bernuansa klasik. Hal-hal yang terkesan sepele, namun menarik untuk diceritakan.

Mereka adalah para travel jurnalis.

Jika berkunjung ke blog mereka, tidak hanya terdapat ulasan-ulasan tentang berbagai destinasi, namun juga kisah-kisah menarik di balik perjalanan mereka.

Generasi 2.0 orang-orang yang peka pada sekitar saat di perjalanan. Tulisan-tulisan mereka bukan hanya memancing orang untuk berkunjung ke suatu tempat, namun juga menginspirasi orang-orang untuk berani melangkah.

Traveling bukan lagi tentang destinasi. Traveling adalah tentang belajar bagaimana menikmati perjalanan.

SHARE :



REKOMENDASI




ARTIKEL KEREN PALING BARU