Desa Wisata Taman Sari, Alternatif Objek Wisata Baru di Banyuwangi

Desa wisata Taman Sari Banyuwangi di Kecamatan Licin dapat menjadi daftar kunjungan wisata di Banyuwangi yang selanjutnya bagi Anda dan keluarga!

SHARE :

Ditulis Oleh: Desti Artanti

Selain Gunung Ijen atau padang savana Baluran, Banyuwangi kini sedang mengembangkan desa wisata baru di Kecamatan Licin, Banyuwangi. Desa Taman Sari, yang terletak di kaki Gunung Ijen, dapat menjadi alternatif wisata baru di Banywangi bagi Anda dan keluarga.

Cantiknya Kawah Ijen. CC Flickr 2.0 Alexis D

“Ini menjadi salah satu percontohan desa wisata yang berada di kawasan Gunung Ijen, Banyuwangi. Harapan kami bisa meningkatkan nilai jual serta terintegrasi dengan Touris Information Center (TIC),” papar Wakil Bupati Banyuwangi, Yusuf Widiatmoko usai meresmikan Desa Wisata Taman Sari di rest area Gunung Ijen, Kecamatan Licin, Banyuwangi, Jumat (19/5).

Pemerintah Kabupaten Banyuwangi dan BCA menjalin kerjasama dalam pengembangan Desa Wisata taman sari ini. BCA dinilai secara aktif melakukan pendampingan kepada beberapa komunitas untuk dapat lebih mengembangkan potensi daerah.

“Ijen sudah menjadi tujuan utama pariwisata di Banyuwangi. Warganya makin percaya diri seiring dengan meningkatnya citra Ijen. Dengan bantuan BCA, kami bisa lebih cepat lagi megembangkan pariwisata di sekitar Ijen,” tambah Yusuf Widiatmoko.

Dilansir dari jpnn.com, tren kunjungan wisatawan ke Gunung Ijen terus naik. Saat libur panjang 4-8 Mei 2016, kawasan yang terkenal dengan api blue fire-nya itu diserbu 4.000 wisatawan per hari. Seluruh hotel dan homestay di Banyuwangi okupansinya mencapai 100 persen. Bahkan sektor UMKM di Banyuwangi, ada yang bisa mendulang omzet hingga Rp 150 juta per hari.

“Potensinya sangat besar. Itu sebabnya kelompok masyarakat di kampung wisata yang berada di sekitar areal lereng Gunung Ijen perlu dilatih untuk menjual potensi desanya. Salah satunya lewat Desa Wisata Taman Sari di Kecamatan Licin, Banyuwangi,” urai Yusuf.

Setelah desa wisata diluncurkan, beberapa desa wisata yang bergerak di sekitar kawasan kaki Gunung Ijen, seperti yang dikenal Kampung Penambang, Kampung Bunga dan Kampung Susu di integrasikan dalam satu ruang yang bernama Kampung Wisata Taman Sari. Wisatawan yang akan berkunjung ke Gunung Ijen bisa melihat etalase kecil tentang potensi Banyuwangi di pondok Desa Wisata Taman Sari yang bernuansa khas Suku Osing tersebut.

Di kawasan rest area Gunung Ijen itu, wisatawan juga bisa mencicipi ragam kuliner dan berbelanja oleh-oleh khas Banyuwangi. Kawasan itu juga dilengkapi ruang informasi pariwisata yang disebut Tourist Information Center (TIC).

“BCA ingin mengambil bagian dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat setempat. Semisal, melakukan pelatihan kepemimpinan dan pariwisata. Keterlibatan warga dalam membangun desa bisa semakin membuka peluang usaha lantaran menarik para wisatawan dan menciptakan lapangan pekerjaan bagi masyarakat setempat,” timpal Kepala Kantor Wilayah VII BCA, Djoko Rosmiatun.

Selain berkolaborasi membangun desa wisata, BCA juga menyerahkan bantuan dana bagi Banyuwangi Sea Turtle Foundation (BSTF) senilai Rp 125 juta. Dana bantuan tersebut ditujukan untuk pengembangan dan perlindungan penyu di kawasan Banyuwangi.

Menpar Arief Yahya mengapresiasi kerjasama kabupaten Banyuwangi (Goverment), BCA (business), Masyarakat Desa (Community) itu. Akan semakin sempurna bila menggandeng para intelektual (Academition) dan media. Rumus Pentahelix, segilima ABGCM yang dipopulerkan Arief Yahya jauh sebelum menjadi Menpar.

“Memulainya dari mana? Sekarang sudah ada tiga unsur, itu sudah sangat bagus. Karena itu menambah dua unsur lagi menjadi sempurna,” kata Arief Yahya.

Pola ini bisa diterapkan di mana saja, dalam membangun destinasi baru, maupun me-reaktualisasi destinasi lama yang sudah uzur dan terus terdegradasi. Kunci suksesnya adalah outworld looking dan sinergi yang harmonis sebagai Indonesia Incorporated. “Kalau kompak, semua bisa dilakkan bersama-sama!” ujarnya.

Baca juga:

SHARE :



REKOMENDASI




ARTIKEL KEREN PALING BARU