Dear Para Sarjana, Bertualanglah Sebelum Kembali Berjuang!

Sekarang saatnya terjun ke 'sekolah kehidupan'. Sarjana, cobalah melangkah melihat dunia!

Erwina Salsabila • September 13, 2016

Setelah menimba ilmu selama lebih dari 16 tahun dan tiba saat kamu bisa dengan bangga memakai segala atribut wisuda, ini adalah salah satu momen paling bahagia sepanjang hidup.

sarjana

Foto merupakan dokumentasi pribadi penulis

Ada baiknya, setelah melalui sebuah perjuangan panjang (Ya! Datang ke kelas setiap pagi, begadang mengerjakan tugas kelompok, penelitian, belum lagi ujian yang bikin ‘tertekan’ setiap semesternya) kita meluangkan waktu untuk merayakan keberhasilan ini. Tentunya dengan kegiatan yang bermanfaat dan mempersipakan kita menuju jenjang setelahnya, yaitu dunia kerja.

Percayalah, setelah kelulusan, saya langsung backpacking dari Yogya – Flores, dan dua tahun setelahnya, pengalaman itu menjadi pengalaman paling berharga dalam hidup saya yang masih muda ini.

Artikel ini saya persembahkan untuk kamu yang punya tabungan, dan sedang mencari cara untuk merayakan kelulusanmu. Pergilah traveling kawan! Rencanakan perjalananmu, kemas segala peralatan, dan hit the road!

Masih ragu? Baca dulu 7 alasan ini :

1. Berhenti Sejenak dan Rayakan Keberhasilanmu!

Selama studi, selalu ada deadline dalam segala sesuatu. Saat mengumpulkan tugas, mengerjakan ujian, bahkan liburanpun harus dibatasi. Ini saatnya kamu berhenti sejenak, dan memberikan semua apresiasi yang pantas bagi perjuanganmu selama ini.

Semua mahasiswa yang berhasil lulus kuliah telah berhasil melalui cobaan dan tempaan selama masa studi. Mulai dari susahnya mata pelajaran, dosen yang mempersulit, patah hati, jauh dari keluarga, hingga harus irit karena uang jajan yang pas-pasan. It was challenging! We nailed it!

Kita berhasil melalui apapun jenis cobaan, tidak tergoda dengan kegiatan lain yang bikin lupa akan kewajiban kuliah.

Mari gunakan masa transisi ini untuk keluar dari zona nyaman sebagai buffer untuk ganti suasana ke dunia kerja. Terus kalau langsung kerja bukan keberhasilan? Ya keberhasilan, tapi setelah mengarungi bertahun-tahun perjuangan, nggak ada salahnya kan tarik nafas sejenak.

Berhenti, rayakan, kumpulkan energi, dan kita mulai perjuangan selanjutnya!

 

2. Traveling membuatmu lebih bersyukur

sarjana

Seorang perempuan di Desa Sade, Lombok. Foto dokumentasi : Erwina Salsabila

Kalau kamu suka backpacking, kamu akan sadar bahwa traveling tidak melulu soal pantai, gunung, atau nongkrong cantik.

Traveling juga tentang bertemu dengan masyarakat kemanapun kamu pergi. Mungkin perempuan di Desa Sade yang tidak boleh keluar dari desa tanpa ditemani anggota keluarga, anak-anak kecil yang bermain mobil-mobilan dengan botol bekas di Lombok Timur, atau masyarakat Flores yang menguburkan sanak keluarga di depan pintu rumah mereka.

Dari sini, kamu akan belajar menghargai kehidupan dan arti kebebasan. Bersyukur karena kita diberikan akses pendidikan, internet, bahkan sekadar kesempatan untuk bisa berpergian. Rasa syukur ini sulit kamu dapatkan dengan menonton TV atau video tentang mereka, kamu harus merasakan dengan inderamu sendiri.

 

3. Menumbuhkan rasa empati

sarjana

Anak-anak di Kelimutu, Flores. Foto dokumentasi: Erwina Salsabila

Sebaik-baiknya manusia, adalah yang memberikan manfaat bagi orang lain. Terlahir di negara berkembang seperti Indonesia akan menyadarkanmu bahwa gelar sarjanamu berarti tanggung jawab lebih, yang kamu emban untuk dibayarkan kepada masyarakat. Karena tidak semua lapisan masyarakat kita, diberikan kesempatan untuk edukasi setinggi sarjana.

Saya mengalami beberapa cerita mengharukan saat seorang supir travel berbagi tentang mimpinya untuk bisa menyekolahkan puteri tercinta hingga bangku pendidikan tinggi, atau saat seorang anak laki-laki di Flores bernama Kris yang tidak bisa melanjutkan sekolah karena terpaksa bekerja untuk meringankan beban keluarga.

Dear para sarjana, ada banyak hal dan tanggung jawab yang harus kita bayarkan kepada mereka yang kurang beruntung di Indonesia

Kamu akan menyadari hidup ini tidak sesimpel “besok mau makan dimana?”, “kapan punya pacar?” hidup ini seluas dan serumit “apa yang bisa kita bantu untuk mereka?”

Travel is the best teacher of humanity, only by traveling you will see everyone laugh, smile, cry, the same as you do.. then you start to relate to their problems, their life, by this.. you will learn empathy, then the best thing is that: you will start to care.

 

4. Yuk kita tes, implementasikan ilmumu!

sarjana

Makan malam komunitas backpacker Banyuwangi. Foto dokumentasi: Erwina Salsabila

Kamu sarjana pertanian? Selama perjalanan kamu akan menemukan beberapa tantangan dalam masyarakat seperti kenapa ya Lombok bagian utara lebih sulit sumber air dan lama masa panennya? Ilmu dan solusi apa yang sekiranya bisa membantu menyelesaikan tantangan ini?

Kamu anak komunikasi? Bisa nggak kira-kira berkomunikasi sama masyarakat yang tidak mengerti bahasamu, bisa nggak memastikan bahwa komunikasi yang kamu lakukan bisa membawa kamu pada tips-tips untuk mendapatkan akomodasi murah atau transportasi yang lebih nyaman? Yakin kalau kamu nggak ditipu calo barusan?

Kamu anak Hubungan Internasional? Sudah yakin bisa merepresentasikan Indonesia yang begitu luas di mata internasional kalau hidup masih sekadar di situ-situ aja?Yakin kepentingan negara kita cuma masalah perdagangan atau perbatasan? Kira-kira masalah HAM dan berbagai ratifikasi konvensi udah terlaksana belum ya di masyarakat luas? Atau bahkan coba deh implementasi kemampuan diplomasi dan negosiasi kamu biar bisa traveling atau makan bareng dengan kelompok wisatawan asing.

Traveling akan membuka mata kita mengenai berbagai fenomena yang terjadi. Jika merasa ilmumu belum cukup, kamu akan termotivasi untuk belajar lebih banyak!

 

5. Waktu untuk memikirkan arah karirmu

Sarjana

Tentukan karirmu! Foto dokumentasi: Erwina Salsabila

Terberkatilah para sarjana yang sudah tahu mau kerja apa. Tapi kebanyakan dari kita masih bingung menentukan karir kedepannya. Kadang kita mengambil suatu jurusan, tapi dalam perjalanannya kita tidak merasa cocok dengan jurusan tersebut. Mau ganti arah? Sudah terlanjur, rugi waktu dan sayang biaya. Akhirnya pasrah.

Berbeda dengan kuliah, karirmu lebih banyak menkonsumsi waktu. Bayangkan saja, selama 8-9 jam sehari kamu akan memberikan pikiran, tenaga, waktu untuk pekerjaan ini. Jika kamu tidak melakukan pekerjaan yang membuatmu bahagia, hidup serasa di neraka.

Nah dengan traveling, kita akan mengunjungi beberapa tempat yang indah dan menarik, disana saat kita merasa bahagia, tenang, tanpa tekanan kita bisa berpikir kembali apa yang sebenarnya hal yang membuat kita paling bahagia.

Mungkin kamu adalah seorang alumni pertanian berujung kerja di Organisasi Internasional, atau seperti saya, lulusan ilmu hubungan internasional yang jatuh cinta dengan segala sesuatu yang behubungan dengan e-commerce.

Semua ini butuh pikiran yang tenang, dan waktu yang panjang.

Setelah kamu tahu apa yang kamu mau, akan sangat mudah setelahnya untuk meniti karirmu. Ya mungkin bisa berubah tapi setidaknya saat memilih pekerjaan pertama kita nggak bingung-bingung amat.

 

6. Belajar Arti Kenyamanan yang Sesungguhnya

sarjana

Bus dangdut Malang-Banyuwangi. Foto dokumentasi: Erwina Salsabila

Semasa kuliah, kita mungkin mengira bahwa kenyamanan itu berbanding lurus bahkan identik dengan kemewahan. Nyaman adalah naik transportasi yang dingin, sepi, dan mudah.

Naik bus 12 jam yang kursinya tegak, lagi tidur dibangunin pengamen yang nyanyi di depan telinga, naik mobil yang penuh sesak untuk sampai Moni, Flores, bahkan bertemu dengan orang yang ngomongnya sangat amat tidak enak dan buat kamu tersinggung. Setelah traveling kamu akan sadar semua hal itu tetap dan masih bisa memberikan kenyamanan.

Kenyamanan sesungguhnya harus ditentukan oleh diri kita sendiri, oleh kebahagiaan yang tidak didefinisikan dengan kemewahan tapi rasa bersyukur. Ini adalah salah satu pelajaran paling berharga yang bisa kamu dapatkan dari traveling.

Semua orang bisa merasa nyaman di tempat mewah, mobil bagus, ruangan ber AC. Tapi tidak semua orang bisa menemukan kenyamanan di dalam kesederhanaan, panasnya matahari, asap, transportasi yang penuh. Karena itu, jika kenyamananmu begitu sederhana, kamu akan jadi orang yang mudah bahagia

Kenapa ini penting? karena di umur segini kita suka berandai-andai bahwa hidup akan nyaman hanya saat kita kaya, bermartabat, punya posisi. Itu semua tidak benar, saya sudah membuktikannya. Hidup akan terasa nyaman saat kita bahagia dan pandai bersyukur tidak ada korelasi sama sekali dengan harta.

 

7. Demi pemandangan, pertemanan, dan pelajaran

sarjana

Foto dokumentasi: Erwina Salsabila

Alasan terakhir dan yang paling penting, kita akan bercengkrama dengan alam. Di mana semua sangat sederhana dan sangat istimewa. Begitu Indahnya sampai kita kehabisan kata-kata. Begitu fenomena alam membuat kita sadar bahwa kita bukanlah apa-apa di dunia.

Kamu juara lomba? Mahasiswa berprestasi? Cowok paling ganteng se-dunia? Terus kenapa? Dunia ini begitu besar, luas, dan kita hanya setitik kecil di dalamnya. Alam mengajarkan kita untuk tidak sombong.

Baca ini: Menjadikan Alam sebagai Kelas dan Masyarakat sebagai Dosen

Seberapun berat masalahmu, sunset akan mengingatkanmu bahwa semua akan berganti, hari yang terang melelahkan ini akan berganti malam. Sunrise akan mengingatkanmu seberapapun sulit kondisimu saat ini, ingatlah sebelum cahaya dan hari berganti, kamu akan menghabiskan beberapa waktu dalam kegelapan.

Kamu juga akan bertemu dengan beberapa orang dalam perjalananmu, mulai dari ibu pemilik home stay yang bercerita tentang mimpinya yang jadi kenyataan, bapak pemilik home stay yang mengantarkanmu sampai stasiun, teman sesama traveler yang menjamu kamu makan malam pada tahun baru, atau teman mendaki gunung bersama-sama di mana kalian jadi akrab karena sama-sama berjuang.

Mereka orang yang tidak mengenal siapa kamu, tapi memilih untuk menghabiskan waktu bersamamu.

***

Maka menabunglah dari sekarang dan mulailah perjalananmu! Hadiahkan perjalanan setelah wisuda dari kamu, untuk kamu, dengan kamu.


Tinggalkan Komentar

Komentar