Miskomunikasi, Masalah yang Kerap Saya Temui Saat Traveling

Ngobrol dengan orang Thailand melalui telepon itu membingungkan.

Echi • January 13, 2017
echi

Echi

Mari kita berbicara tentang bahasa. Setuju nggak sih, kalau bahasa adalah poin penting saat traveling?

Misalnya nih, lagi traveling ke daerah pelosok Indonesia, meski Bahasa Indonesia sudah jadi bahasa nasional, tapi masih banyak penduduk lokal yang belum lancar berbahasa Indonesia. Contohnya ibu saya, beliau terkadang masih susah ngomong bahasa Indonesia dengan lancar karena terbiasa dengan bahasa daerah.

Apalagi, saat jalan-jalan ke luar negeri. Sejago-jagonya kita ngomong Bahasa Inggris, kalau lagi jalan-jalan ke negara yang kemampuan bahasa inggrisnya kurang pun bakal sulit komunikasi.

Bahasa, menjadi kendala yang saya alami saat traveling. Begini contohnya,

 

1. Susahnya tanya jalan kepada warga lokal di Phuket

Nggak adanya koneksi internet, mengharuskan saya meninggalkan GPS dan tanya arah kepada warga lokal. Disitulah keahlian berkomunikasi saya diuji.

Saya : “Excuse me, can you show me how to get bus station?”

Warga lokal A : cuma diam

Lalu saya tanya beberapa orang lainnya berharap bisa dapat pencerahan. Sama saja, mereka nggak paham dengan apa yang saya maksud.

Akhirnya, saya mengeluarkan peta sambil menjelaskan kalau saya ingin ke terminal bus. Barulah mereka paham.

Warga lokal B : “bus … small (sambil memperagakan bentuk bus kecil)”

2. Miskomunikasi dengan bapak penjaga penangkaran penyu di Bangka Barat

Awalnya sih paham karena si bapak bercerita tentang sejarah penangkaran penyu menggunakan bahasa Indonesia. Seru dan menarik untuk didengarkan. Bahkan sesekali saya menimpali obrolan itu.

Tapi, lama kelamaan, si bapak ini ngobrol pakai bahasa Indonesia bercampur bahasa daerah Bangka barat yang nggak saya pahami. Kali ini, saya nggak paham dan cuma bisa mendengarkan sambil tersenyum.

3. Kehilangan jejak bus di pos imigrasi Thailand dan Malaysia

Seharusnya saya ada di antrean penumpang bus. Tapi, karena menghindari antrean yang panjang, saya memilih antrean “kereta orang”, yang saya pikir artinya sama saja dengan bus. Ternyata saya salah ambil antrean dan ketinggalan bus.

4. Ngobrol dengan orang Thailand melalui telepon itu membingungkan

Suara pesawat telepon di seberang: ” อย่างไรก็ตาม ชายหนุ่มผู้บันทึกคลิปดังกล่าว ให้ข้อมูลเพิ่มเติมผ่านผู้สื่อข่าว เหตุเกิดวันที่ … อ่านต่อที่ “

Saya : ” Sorry, I only speak English and Bahasa. “

Suara pesawat telepon di seberang: ” อย่างไรก็ตาม ชายหนุ่มผู้บันทึกคลิปดังกล่าว ให้ข้อมูลเพิ่มเติมผ่านผู้สื่อข่าว เหตุเกิดวันที่ “

Saya : ” Sorry sir, I just want to book a ticket to Phi Phi Island. Can you speak English?”

Belum juga saya selesai ngomong, suara telepon sebelah masih bicara pakai bahasa Thailand yang nggak saya pahami sama sekali. Nggak lama kemudian,

Suara pesawat telepon di seberang: “tuttt.. tuttt.. tuttt”

(suara sambungan pesawat telepon baru terdengar)

JADI YANG TADI NGOBROL SAMA SAYA SIAPA DONG?!

5. Butuh waktu lama buat ngerti kalau saya mau ditraktir makan abang penjaga loker di KL Sentral

Pengalaman waktu backpacking ke Kuala Lumpur. Saya sendirian dan berencana menitipkan ransel segede kulkas ini di loker penitipan di KL Sentral. Sempat ngobrol sama abang penjaga loker dan saya diajakin makan.

Abang penjaga loker : “Kamu dari Indonesia sendiri kah?”

Saya : “iya bang”

Abang penjaga loker : “Mari, saya belanja Kamu”

Saya : “Hah???”

Abang penjaga loker A : “maksud saya, belanja Kamu makan dan minum”

Karena saya masih juga belum paham, lalu teman disebelahnya menjelaskan.

Abang penjaga loker B : “he said, he wants buying food for you”

Saya : “Oalah… TRAKTIR Bang maksudnya? Mau mau mau “

Mau ditraktir aja susah banget ya.

6. Sempat agak “tegang” dengan teman bule gara-gara mispronunciation

Kejadian ini terjadi saat saya jalan-jalan bareng sama teman dari Austria ke Banyuwangi. Karena terburu-buru dan sudah capek banget, terjadilah miskomunikasi.

Teman bule : ” You still have my money”

Karena kuping agak kurang jelas, yang saya dengar adalah

“You steal my money”

Ngerasa dituduh mencuri, saya panik. Disitulah terjadi sedikit ketegangan. Namun, akhirnya bisa dibicarakan baik-baik kalau semua hanya salah paham.

7. Dicuekin ibu-ibu karena saya nggak bisa ngomong pakai Bahasa Thailand

Baru selesai sholat, tiba-tiba seorang ibu di sebelah saya mengajak berbicara pakai bahasa Thailand. Si ibu ini ngobrol panjang banget. Belum sempat saya jelaskan, ibu-ibu warga lokal Thailand ini masih melanjutkan obrolannya.

Nah, saat selesai ngomong, barulah saya berbicara,

“Sorry, I cant speak Thai. I am from Indonesia”

*LALU HENING, SAYA DICUEKIN*

8. Ngajak ngobrol supir taksi Thailand, tapi nggak ada respon

Saya : “Sir, how long do we need to get the hostel?”

Supir taksi : (hanya diam)

Saya : (Oh, mungkin Bahasa Inggris saya kurang jelas, jadi dia nggak paham)

Saya : “Sir, how’s Phuket today?”

Supir taksi : ( diam )

Nggak ada lagi obrolan. Hanya terdiam. Hening.

***

Well, banyak hal yang perlu dipersiapkan sebelum traveling. Uang sudah jelas, kemampuan berbahasa pun penting. Apalagi mengunjungi negara lain atau daerah yang masih tradisional banget. Komunikasi jadi kunci lancarnya perjalanan.

Kamu bisa juga baca artikel ini,


Tinggalkan Komentar

Komentar