5 Hal yang Sering Disepelekan Saat Mendaki Gunung

Makin banyaknya penikmat kegiatan mendaki gunung tak dibarengi dengan wawasan ilmu mendaki yang cukup. Banyak hal yang kadang disepelekan para pendaki.

Irma Kusuma Dewi • March 14, 2015
mendaki-gunung

Foto oleh Irma Kusuma Dewi

Kegiatan mendaki gunung masuk dalam kategori high risk, dimana dibutuhkan persiapan yang mendetail sebelum melakukan pendakian ke gunung yang dituju.

Namun dengan seiring berjalannya waktu, kegiatan ini makin banyak penikmatnya. Masih jelas di ingatan awal tahun 2010 saat saya melakukan perjalanan dengan kereta dari Malang ke Jakarta untuk kegiatan di Taman Nasional Gunung Halimun Salak masih jarang ditemui pendaki ber-carrier di dalam gerbong kereta, namun berbeda untuk beberapa tahun kebelakang, hampir sering di dapati banyak penumpang bergaya pendaki di stasiun maupun terminal.

Sayangnya peningkatan penggiat kegiatan mendaki ini tidak dibarengi dengan wawasan tentang persiapan pendakian dan informasi detail gunung yang dituju. Hal ini berdampak dengan adanya pendaki yang tersesat di gunung, sampai meninggal dunia.

Berdasar pengalaman, ada beberapa hal yang sering di anggap remeh oleh penggiat alam bebas.

1. Lebih suka memakai sandal dari pada sepatu

Sering saya temui di beberapa pendakian, banyak yang menggunakan sendal gunung untuk mendaki. Miris memang, sedangkan kaki kita merupakan organ penting dalam kegiatan pendakian.

Jika kaki kita terluka karena tidak terlindung oleh kesalahan kita sendiri dengan memakai sendal, lalu akan menyalahkan siapa? Menyalahkan jalur yang terjal? Menyalahkan ranting yang menusuk kaki kita?

Mulailah membiasakan menggunakan sepatu dalam pendakian, beberapa Taman Nasional juga sudah menerapkan wajib menggunakan sepatu dalam pendakian.

2. Tidak membawa survival kit

Pernah terjadi saat saya melakukan pendakian ke Gunung Arjuna, teman seperjalanan saya mengeluh,

“Ir, carrierku copot nih belt bahunya.” Seketika saya langsung mengeluarkan benang dan jarum dari kotak survival kit saya. Teman saya heran mengapa saya repot-repot membawa benang dan jarum saat mendaki, namun terbukti 2 barang itu berguna saat itu.

3. Bergantung pada teman

‘Bawakan sleeping bagku ya’, ‘jaketku kurang tebal nih, aku pinjam dong’, ‘Logistik kamu yang bawa ya, aku bawa air aja.’

Pernah mendapat kaliamt seperti ini? Atau sering kalian yang termasuk dalam pendaki yang sering “menyusahkan teman”?

Ketahuilah bahwa membawa perlengkapan pribadi sendiri itu wajib.

Karena beban teman sudah berat, jangan kita tambahi dengan perlengkapan kita yang seharusnya bisa kita bawa sendiri.

Sempat terbersit juga, jika perlengkapan safety kita di bawa teman, lalu kita tersesat, jangan sampai ini terjadi oleh kita.

4. Membawa barang-barang tak berguna

Mungkin pernah terlintas dipikiran kita, ketika mendaki ingin bergaya semaksimal mungkin dengan baju aneka rupa, otomatis kita harus membawa pakaian lebih yang menambah berat beban bawaan kita.

Ini termasuk tindakan yang merugikan diri kita sendiri, jalur pendakian sudah berat, janganlah menambah berat dengan membawa printilan yang tidak penting.

5. Packingan carrier tidak benar

Pernah merasakan saat mendaki carrier yang kita bawa berat sebelah atau beban serasa tertumpu di pinggang atau pinggul?

Sudah banyak tutorial cara packing yang benar di internet, ada baiknya dipraktekan demi kenyaman saat mendaki.

Dengan menata barang bawaan kita dengan baik dapat memudahkan kita mencari barang tersebut saat sewaktu-waktu di butuhkan.

Misal, jas hujan jangan dipacking di bagian dalam carrier, karena hujan tak dapat di prediksi, ada baiknya letakkan di bagian carrier yang terluar agar mudah saat mengambilnya jika di butuhkan.

Karena kenyamanan saat mendaki bergantung pada diri kita, bukan tergantung oleh teman seperjalanan.


Tinggalkan Komentar

Komentar