5 Alasan Mengapa [Sesekali] Kamu Perlu Coba Solo Traveling

Hidup terlalu singkat untuk dihabiskan dengan sesuatu yang sia-sia, jadi kapan kamu siap menjelajah bumi nusantara ini?

Ashadi Natha Prasetyo • July 9, 2016

Dingin nya Kota Bandung malam itu, tidak menghalangi saya dan teman-teman pencinta traveling mengunjungi sebuah pertemuan, kopi darat kecil-kecilan yang diadakan oleh Catatan Backpacker.

Mungkin ada beberapa orang yang belum mengenal atau asing dengan nama Catatan Backpacker. Catatan Backpacker adalah sebuah akun instagram yang digawangi oleh Ashari Yudha selaku admin yang melakukan solo traveling keliling Indonesia.

Banyak pengalaman yang diceritakan oleh Ashari Yudha atau yang sering disebut Yudmin di akun instagramnya ketika melakukan solo traveling. Mungkin bagi sebagian orang, melakukan solo traveling adalah hal yang mustahil dan sulit untuk dilakukan. Wajar kita berpikiran seperti itu. Selain tidak mudah menjadi seorang solo traveler, kekhawatiran terhadap sesuatu yang akan terjadi, biaya yang mahal, serta jauh dari orang terdekat menjadi kendala tersendiri. Tapi jangan kuatir, dibalik semua itu ada beberapa keuntungan untuk menjadi solo traveler.

 

1. Tidak perlu repot mencari teman

 

Ini sebenarnya menjadi masalah klasik ketika ingin merancanakan suatu perjalanan. Mengajak teman untuk traveling bukan perkara mudah, lamanya waktu, tujuan destinasi, biaya terkadang menjadi masalah. Dengan solo traveling, kita bebas mengeskplor tempat-tempat yang kita mau tanpa terganggu dan terburu-buru oleh teman.

 

2. Menghemat biaya

 

Yudmin bercerita, selama solo traveling, dia lebih mudah mendapatkan tumpangan, menginap di rumah penduduk, bahkan menggunakan truk dan kapal sebagai sarana transportasi. ‘Liburan itu mahal di 3 aspek, penginapan, makan, dan transportasi. Saya pernah menumpang truk selama 4 hari 3 malam dari Labuan Bajo, Flores sampai ke Surabaya. Di sana saya cuma bayar supir dan kenek untuk makan 3x.’‘Terus resiko nya apa Yud?’ tanya seorang peserta kopdar. ‘Ya.. Resikonya dari segi waktu. Perjalanan jadi lebih lama. Tapi Asyik kok! Dijamin deh!” ‘Nah Kang Yud! Trus ngakalin tempat penginapannya gimana? Berapa banyak uang yang harus dibawa?’ lanjut seorang teman yang bernama Vio. ‘Kalau untuk penginapan, kita ngakalinnya dengan menginap di rumah-rumah penduduk. Ya paling enggak, kita bantu-bantu di rumahnya lah biar di kasih tempat istirahat.’    

3. Belajar mengatur barang bawaan

 


Terkadang bagi sebagian orang, packing barang merupakan suatu hal yang membosankan. Banyak orang membawa peralatan yang sebenarnya tidak perlu dibawa dan itu akan menambah beban pada tas. Bagi solo traveler seperti Yudmin, memilah barang yang diperlukan adalah suatu keharusan.

Tidak perlu membawa pakaian banyak-banyak. Nanti kita bisa mencucinya apabila sampai di tujuanJadi selama perjalanan, saya hanya membawa tas carrier ukuran 55 L dan tas selempang di depan.’

 

4. Bisa lebih berbaur dengan masyarakat sekitar

 

Yud, kalo nemu spot bagus yang fotoin siapa dong? Sedih banget nggak ada yang fotoin? Masa enggak mau update di Instagram?’  tanya rekan saya di kopdar. ‘Sebenarnya itulah sedihnya menjadi solo traveler, ketika menemukan spot yang bagus enggak ada yang fotoin,’ jawaban Yudmin disambut gelak tawa teman-teman. ‘Tapi ada untungnya di sini, kita bisa menjadi lebih dekat dengan warga sekitar, berinteraksi dan berbaur dengan mereka. Itulah yang membuat kami dianggap seperti keluarga mereka sendiri.’ ‘Caranya gimana min berbaur dengan masyarakat? Apalagi kita dianggap sebagai orang asing. Pasti kan susah?’ ‘Sebenarnya gampang kalau kita mau mencoba. Biasanya saya ngobrol sama yang punya warung. Langsung sok kenal sok dekat, jadi sesekali jajan lah disana. Moduslah kalau jaman sekarang mah! Nanya-nanya rumah kepala desa atau kepala RT. Kalau udah ketemu jelasin tujuan perjalanan dan mau menumpang menginap. Atau cara paling akhir… Ya belajar bahasa daerah sedikit-sedikit. Pas lagi ngobrol sama warga, bahasa daerahnya dipakai. Walaupun kadang pengucapan suka salah, itu enggak jadi masalah buat mereka. Justru itu yang membuat hubungan saya dengan warga semakin erat. Dan dengan menggunakan bahasa daerah, mereka merasa di hargai.”    

5. Menambah teman bahkan keluarga

 


Seringkali kita berpikir bahwa solo traveler akan selalu seorang diri bila bepergian. Jauh dari mana-mana, tidak punya teman, merasa asing di tempat baru dan tidak ada orang yang kita kenal untuk meminta bantuan apabila diperlukan. Solo traveling tidak akan pernah benar-benar sendiri apabila kita berani berinteraksi dan mau berkomunikasi dengan orang-orang baru.

Dengan berinteraksi, kita akan bertemu dengan teman baru yang akan menemani kita selama perjalanan tentunya akan memberi kemudahan untuk mengunjungi tempat-tempat yang kita tuju.

Dan tidak jarang juga, kita akan menemukan keluarga baru di setiap destinasi yang kita kunjungi. Yang membuat kita serasa di rumah sendiri. Contohnya ketika saya harus istirahat total karena kelelahan akibat menempuh perjalanan jauh. Keluarga dimana saya menumpang menginaplah yang merawat saya. Mereka itu udah mengganggap saya seperti anak sendiri deh!’

Trus Kang, pernah enggak dapat keuntungan gitu karena menginap di rumah warga, terus bisa mengunjungi tempat yang menarik?’

Waktu saya menginap di sebuah keluarga di Pulau Tomia, Wakatobi. Disana saya bisa masuk ke Pulau Onemabaa. Padahal itu pulau private banget. Orang asli setempat aja belum tentu bisa masuk. Bahkan waktu itu ada bupati yang mau masuk kesana, tapi enggak di kasih izin karena dadakan.’

Lah min! Bupati aja enggak bisa masuk! Kok Akang bisa?’ Tanya seorang peserta dengan kebingungan.

Nah itulah untungnya solo traveling. Karena tahu saya mau kesana, dan pengen banget. Jadi saya dikasih izin sama keluarga disana. Haha..’

Selain itu, ada satu lagi pengalaman yang paling menarik,’ lanjut Yudmin sambil menikmati wajit Cililin yang diberikan seorang rekan yang bernama Memet.

Waktu saya di Banda Neira dan sedang tidur di kantor desa. Ada kepala keluarga yang merasa kasihan sama saya. Jadi sama kepala keluarga itu, saya dibangunkan lalu disuruh pindah ke rumah untuk melanjutkan tidur di sana. Jadi tanpa basa-basi, saya di undang untuk menginap di rumah warga. Enak kan?’

Ya intinya sih selama bepergian, saya ketemu keluarga yang baik semua. Jadi aman.”

***

Memang baik traveling bersama teman maupun solo traveling memiliki kelebihan masing-masing. Bagi orang yang memiliki waktu yang terbatas, tentunya traveling bersama teman menjadi pilihan yang bijak. Traveling dengan teman membuat suasana lebih asyik dan menyenangkan. Tapi bagi yang ingin traveling dalam jangka waktu yang lama dan ingin mengeksplor lebih dalam, solo traveling merupakan jalan terbaik. Selamat mencoba kawan!


Tinggalkan Komentar

Komentar