4 Kebiasaan Buruk Penumpang di Pesawat

Banyak kelakukan penumpang pesawat di Indonesia yang terkadang memalukan dan tak pantas dilakukan.

Ariesadhar • March 15, 2015

penumpang-pesawat

Foto oleh Ariesadhar

Ketika masih berumur 10 tahun, saya melakoni perjalanan dari Bukittinggi ke Jogja menggunakan bus. Waktu yang ditempuh adalah 4 hari.

Seru dan cukup layak untuk dikenang karena sekarang saya lebih banyak menggunakan pesawat untuk mudik.

Bukan apa-apa, kalau cuti hanya ada 12 hari, dipotong 3 hari untuk libur bersama, masak saya habiskan semuanya untuk mudik naik bis?

Sejak pertama kali naik pesawat pada tahun 2004, saya mengamati banyak hal yang dilakukan oleh sesama penumpang. Banyak yang melakukan hal baik, namun banyak juga yang tidak.

Ironisnya, banyak juga kebiasaan buruk itu yang berulang, terjadi dari penerbangan satu ke penerbangan lainnya yang saya naiki oleh penumpang yang berbeda pula.

Semakin ironis ketika pelaku kebiasaan buruk itu tiada mafhum bahwa perilakunya dapat membahayakan diri sendiri dan juga penumpang lainnya.

1. Tidak Peduli

Mungkin saya salah, namun yang saya pahami dari pelajaran Pancasila dahulu kala, rakyat Indonesia adalah orang yang peduli pada diri sendiri dan juga pada sesama.

Apa daya, yang saya lihat di dalam pesawat justru hal yang berbeda.

1 a. Tidak Peduli Pada Sabuk Pengaman

Sabuk pengaman di pesawat bentuknya memang teramat simpel, namun fungsinya sangat penting untuk menjaga tubuh kita dari gerakan yang tidak diinginkan, terutama ketika take off dan landing. Dan mengingat letaknya di pinggang, tidak semua orang nyaman dengan sabuk tersebut.

Suatu kali saya terbang malam dari Pangkalpinang ke Jakarta. Sesuai prosedur landing, lampu pesawat sudah diredupkan, gerakan pesawat menembus awan juga sudah mencerminkan arah untuk mendarat.

Begitu saya hendak mencoba terpejam karena goncangan yang terjadi agak lumayan, tiba-tiba sebuah besi tipis menyentuh kaki kanan saya. Besi tipis berupa sabuk pengaman.

Iya, ibu-ibu yang ada di depan saya melepas sabuk pengamannya persis ketika seharusnya sabuk pengaman itu dikenakan.

Memberitahunyapun ternyata bukan hal yang mudah.

1 b. Tidak Peduli Pada Aturan Penggunaan Ponsel

Ini sangat khas, bahkan terjadi pada Bapak saya sendiri.

Beberapa bulan silam, saya menjemput Bapak di Cengkareng. Begitu melihat notifikasi pesawat dari Padang telah mendarat dan memperhitungkan waktu mencari parkir, saya menghubungi Bapak.

Jawabannya sungguh bikin trenyuh, ‘sudah sampai kok, cuma ini pesawatnya masih jalan.’ Duh, Pak!

Profil itu saya saksikan di setiap penerbangan yang sama alami, mulai dari pemberitahuan penting ketika take off berupa, ‘iya, ini saya sudah di pesawat, sedikit lagi terbang,’ hingga, ‘ini pesawatnya baru saja mendarat, sudah jemput kan?’

1c. Tidak Peduli Pada Perintah Tetap Duduk

Tidak terlalu sering terjadi, tapi selalu ada manusia nekat di penerbangan Indonesia.

Dalam penerbangan ke Palembang saya mendapati hal agak miris tapi geli. Persis ketika pesawat mendarat dan sedang berjalan menuju area parkir pesawat–tentu saja lampu tanda kenakan sabuk pengaman masih menyala terang–seorang bapak bangkit dari kursinya dan membuka tempat bagasi di atas.

Iya, di saat pesawat sedang berjalan dengan kecepatan yang lumayan. Keren sekali.

Mungkin terlalu jauh kalau dibandingkan dengan agama, namun profilnya ternyata mirip.

Dalam konteks agama, ketika kita diberi rambu-rambu oleh pemuka agama, kita begitu taatnya.

Sementara di dalam pesawat ada rambu-rambu alias peraturan yang dibuat, kita begitu mudah mengabaikannya.

2. Jorok

Pesawat di Indonesia memang memiliki jadwal padat. Begitu landing, harus take off lagi dalam waktu cepat.

Memang ada kru darat yang bertugas membersihkan pesawat. Namun waktu mepet tentu membuat petugas tidak bisa merambah hingga ke titik-titik yang lebih mendetail.

Maka jangan heran, kalau sekadar bungkus permen nyelip di bangku penumpang atau di tempat majalah. Itu mungkin biasa.

Untuk hal yang lebih jorok, saya pernah menemukan orang yang melakukan aktivitas memotong kuku di langit dan kukunya terbang ke muka saya.

Bukan pengalaman pertama, karena pernah mengalami juga di bus non AC Mayasari Bakti. Beda moda, kebiasaan serupa.

Pun dalam penerbangan dari Medan ke Jakarta saya pernah membuka majalah dan menemukan dahak belum kering di sela-sela halamannya.

3. Maling Elit

Pada mulanya saya hanya mengamati dan mengobrol dengan sesama pelaku perjalanan perihal konsepsi maling elit ini.

Namun ketika saya ngobrol dengan rekan pramugari yang menjadi saksi hidup, saya baru yakin bahwa maling elit ini adalah kebiasaan buruk.

Untuk maskapai penerbangan full-service, tentunya ada suguhan makanan, berikut sendok dan gelasnya. Apa yang terjadi kemudian?

Konsep memiliki menjadi berubah ketika ada perasaan dengan membayar tiket, maka kita berhak mendapatkan sendok, garpu, pisau, sendok kecil, hingga gelas plastik yang digunakan untuk service makan. Belum lagi soal majalah hingga selimut.

Padahal yang kita bayar sebenarnya hanya biaya perjalanan dan bukan alat makan itu.

Agak miris, karena seharusnya yang mampu terbang di maskapai non LCC adalah orang berfinansial memadai dan semestinya berpendidikan memadai pula.

Kadang saya ingin tertawa, karena pembicaraan sepanjang perjalanan adalah soal korupsi, marah-marah ke koruptor, ternyata mereka maling sendok.

4. Mengambil Kursi Orang Lain

Setidaknya saya mengalami hal semacam ini 4 kali, baik itu di penerbangan Padang-Jakarta maupun Jakarta-Palembang.

Saya sudah meminta kursi di dekat jendela, dan dalam beberapa penerbangan saya membayar itu untuk itu. Ketika saya masuk, apa yang terjadi?

Seseorang sudah duduk di tempat yang seharusnya adalah tempat saya. Umumnya yang semacam ini adalah pasangan entah pacaran atau suami istri.

Jadi saya di A, mereka di B dan C. Maunya, mereka di A dan B, saya mengalah di C.

Entah apa yang ada di benak orang-orang semacam itu, yang sudah menduduki kursi milik orang lain, yang boleh jadi harganya lebih mahal, lalu ketika orangnya datang tinggal bilang, “Saya disini ya, Mas?”

Sejak Air Asia tidak lagi membiarkan penumpang memilih sendiri kursinya, perilaku barbar penumpang pesawat mestinya berkurang.

Iya, berkurang, namun tidak habis.

Terakhir, ketika saya mau ke Palembang, ibu-ibu dengan gelang emas menjuntai duduk di seat A milik saya, yang sengaja pesan naik kelas agar bisa book seat.

Tentu saja, saya menang untuk bisa duduk di A, namun itu harus melalui perdebatan tidak penting.