2 Hal Paling Dirindukan Setelah Meninggalkan Surabaya

Bayu Topan • September 28, 2015

Saya masih ingat betul saat kaki saya menapak ubin Stasiun Gubeng, membawa ransel penuh tekad, lalu menyelami rimba metropolitan Surabaya.

Hingga kemudian delapan tahun tak terasa berlalu.

Jancuk!

surabaya

Foto dari Martin Ruddock

Sarjana -sebuah gelar yang hanya diperoleh di perguruan tinggi- sudah berhasil disandang.  Meski ingatan mengenai syntax dan logika algoritma ikut pergi seiring kelulusan ini. Saya lebih banyak mengingat soal ibu-ibu penjual soto, yang tekun mendorong gerobaknya pagi-sore atau bapak penjual mainan tapi tak pernah menjajakan jualannya malah menjadi tukang parkir di depan apotik. Saya terjalin dengan orang-orang yang menunjukkan kesederhanaanya dalam kehidupan sehari-hari. Saya sangat beruntung akan hal itu. Dan kini mereka menjadi teman-teman dekat saya. Kini kami tanpa cela, menjadi sebuah keluarga.

Bagi saya kehidupan mereka adalah visual nyata dari ‘perguruan tinggi’ yang menjadi pekerjaan rumah yang seringkali saya renungkan di malam hari. Berbagai permasalahan nyata kehidupan dimana kita yang menyandang gelar ‘intelektual’ harus turut membantu penyelesaiannya.

Saya yang sekarang adalah hasil akulturasi Banyuwangi, kota di mana saya dibesarkan, dan Surabaya, kota di mana saya merasa hidup saya dimulai. Saya memutuskan untuk hijrah ke Jogja sekitar setahun silam, mencari bahan untuk perenungan malam hari. Saya tahu bahwa saya akan kehilangan mereka, teman-teman saya, dan yang pasti saya akan kehilangan Surabaya, kota yang ditempa oleh panasnya surya.  Banyak hal-hal yang saya rindukan di sana dan tak tergantikan di manapun.

Saya rindu dengan kata jancuk, ‘mantra’ yang telah merasuki saya. Kata ini begitu ajaib di sini. Beberapa orang bahkan mungkin tak mengerti artinya, hanya dikatakan begitu saja.

Saat pertama kali datang ke Surabaya saya masih belum mau mengucapkan kata ini. Lidah ini masih kelu. Masih terdengar kasar dan beringas menurut saya waktu itu. Sebenarnya di Banyuwangi kata jancuk ini sudah biasa, namun tidak sesering diucapkan oleh orang-orang di Surabaya, dan masih cukup tabu bagi kami -orang Banyuwangi- mengucapkannya. Namun, lambat laun saya mulai terbiasa mendengarnya.

Bagi saya kata ini tidak senajis dan sekasar yang orang kira. Kata ini bisa berarti ungkapan kekaguman ataupun keheranan. Apabila merasa kesal dan marah kata ini memang bisa berubah petaka bila diucapkan pada lawan bicara. Tetapi bila bersama teman dan berkumpul, ‘jancuk’ menjadi simbol keakraban. Tentu tak semua orang di sini suka dengan kata ini, kata yang masih dianggap ‘kotor’ dan ‘kasar’. Tapi bukankah seorang bijak pernah berkata “meaning rest in people, not words“? Ini adalah tentang bagaimana seseorang memaknai sebuah kata.

Kata ini layaknya virus, menginfeksi lalu menular pada siapapun yang datang ke Surabaya. Kini saya sudah terbiasa mengucapkannya. Lidah ini sudah tak kelu lagi, cenderung fasih malah.

Namun, bagi Jogja, tempat saya mencari nafkah sekarang ini, jancuk masih terlalu ‘sakral’ untuk diucapkan. Saya tak berani menggunakannya di sini.

Cuk, saya jadi rindu berkumpul dengan teman-teman saya, mendengarkan mereka mengucapkan ‘jancuk’, ‘jancok, ‘cuk’, ‘cok’, ‘dancuk’, ‘dancok’, atau apapun itu.

Kesederhanaan di tengah hingar bingar modernitas

surabaya

Foto dari skyscrappercity

Ada sebuah warung makan yang menjadi favorit saya di Surabaya. Warung yang sangat sederhana. Berdiri di atas trotoar dengan gerobak kayu dan tenda terpal, menumpang tenar di seberang Sate Klopo Ondomohen yang sudah melegenda. Warung ini menawarkan beberapa macam makanan khas Jawa Timur seperti nasi pecel, rawon, lodeh, krengsengan, sup ayam, dan kari ayam. Minuman favorit di sini adalah Es Blewah dengan porsi gelas besar. Entah dari mana mereka mendapatkan buah blewah, yang biasanya hanya bisa ditemukan saat Ramadhan saja. Mereka mendapatkannya setiap hari. Sebelum terang benderang karena ada toko kelontong di sebelahnya, penerangannya redup-redup menenangkan. Tapi tak apalah, warung ini masih tetap menenangkan bagi saya.

Ritual sebelum makan malam di warung ini adalah memarkir kendaraan di sebuah kafe di depan Grahadi (Pendopo Gubernur). Kemudian berjalan kaki sekitar satu kilometer menuju ke sana. Inilah hal kedua yang saya rindukan dari kota ini. Saya berjalan menulusuri trotoar, di bawah lampu penerangan kota, membahas segala yang kami temui dan tertawa. Pernah suatu kali, salah satu dari kami membawa dua batang kembang api dan menyulutnya tengah malam di depan pagar kantor walikota. Lalu duduk santai di bawah patung Soedirman bersama muda mudi yang sedang kasmaran.

**

Surabaya banyak menawarkan kemewahan dan kesenangan di ruang penuh dentam musik, gemerlap lampu, serta rupa-rupa wahana. Namun, hal-hal sederhana seperti itu saja yang saya rindukan di tengah hiruknya Surabaya, kota yang disesaki delapan juta manusia.

 


Sudah punya bahan tulisan tapi bingung mulai dari mana? Simak tips ini



Tinggalkan Komentar



Artikel Terkait